Sempat Tertunda Dua Pekan, Pasien Kanker Usus Asal Tuban Akhirnya Bisa Berangkat Kontrol ke Surabaya

Ahmad Atho'illah • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 13:04 WIB
Setelah tertunda dua pekan, Mohammad Nasirudin, pasien kanker usus asal Dusun Krajan, Desa Lajukidul, Kecamatan Singgahan akhirnya bisa kontrol di RSUD dr. Soetomo Surabaya, kemarin (4/8). (Radar Tuban)
Setelah tertunda dua pekan, Mohammad Nasirudin, pasien kanker usus asal Dusun Krajan, Desa Lajukidul, Kecamatan Singgahan akhirnya bisa kontrol di RSUD dr. Soetomo Surabaya, kemarin (4/8). (Radar Tuban)

RADARTUBAN – Niat tulus dari orang-orang baik yang berusaha membantu meringankan beban Mohammad Nasirudin, 30, pasien kanker usus asal Dusun Krajan, Desa Lajukidul, Kecamatan Singgahan yang kesulitan memenuhi biaya operasional untuk kontrol ke RSUD dr. Soetomo Surabaya akhirnya menemukan jalan.

Setelah lewat dua pekan dari jadwal kontrol yang semestinya tanggal 22 Juli lalu, kemarin (4/8), “malaikat” penolong itu akhirnya datang.

Lantaran mobil ambulans yang dimiliki Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) PCNU Tuban kurang representatif untuk membawa pasien dengan kondisi memprihatinkan, sehingga meminjam ambulans dari Lazisnu Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

Baca Juga: Ironi Pasien Kanker Asal Tuban: Berobat Gratis JKN-KIS, tapi Tak Mampu Bayar Ambulans

Untuk kebutuhan BBM dan tenaga sopir yang mengantar di-cover oleh Unit Pengelola Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) MWCNU Singgahan dan Lazisnu PCNU Tuban. Sesampainya di Surabaya, pasien ditampung di rumah singgah Sedekah Rombongan (SR), lembaga sosial nirlaba.

Wanda, kerabat pasien, mengaku sangat bersyukur dengan hadirnya bantuan dari sejumlah pihak tersebut. Terlebih, pasien tidak lagi memikirkan biaya operasional kendaraan yang harus ditanggung.

Sebab, semuanya sudah ditanggung oleh UPZISNU MWCNU Singgahan dan Lazisnu PCNU Tuban. Pun kebutuhan makan pasien dan pendamping selama menginap di Rumah Singgah SR juga sudah ditanggung, sehingga tidak ada biaya tambahan apa pun.

Lebih lanjut, Wanda menyampaikan, setelah mendapat kepastian bantuan ambulans secara gratis tersebut, pasien langsung diberangkatkan menuju ke RSUD dr. Soetomo kemarin pagi. ‘’Alhamdulillah proses koordinasi berjalan lancar sehingga pasien langsung diberangkatkan (ke RSUD dr. Soetomo, red) tadi pagi setelah subuh,’’ tuturnya.

Pada tahap awal ini, terang Wanda, terpenting pasien bisa berangkat kontrol dari jadwal yang sempat tertunda hampir dua pekan. Adapun ke depannya akan dikoordinasikan lebih lanjut untuk memastikan agar pasien tetap bisa berangkat kontrol tanpa terbebani biaya operasional ambulans.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Nasirudin merupakan pasien miskin penerima bantuan iuran (PBI) JKN-KIS. Meski biaya pengobatannya ditanggung oleh BPJS, namun sejak dirujuk ke RSUD dr. Soetomo, keluarga harus menanggung biaya operasional ambulans setiap kali kontrol. Dan itu tidak sedikit. Termasuk biaya hidup keluarga selama mendampingi pasien di Surabaya.

Pada tahap awal, pihak keluarga masih mampu mencari biaya untuk mencukupi kebutuhan operasional ambulans dan biaya hidup selama mendampingi pasien di Surabaya—kendatipun harus utang ke sana-kemari.

Namun, karena kondisi pasien tak kunjung sembuh dan tetap harus kontrol, sehingga pihak keluarga hanya bisa pasrah. Iuran dari tetangga dan bantuan dari pemerintah desa sudah diberikan, tapi tetap saja ada batasnya.

Kepala Desa Lajukidul, Kecamatan Singgahan Nur Amin mengatakan, sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah desa, problem yang dihadapi pasien telah dibahas di musyawarah desa (musdes).

Namun, karena kondisi keuangan desa yang juga terbatas, sehingga hanya bisa memberikan bantuan berupa bantuan langsung tunai (BLT) dana desa (DD).

Baca Juga: Ancaman Kanker Intai Generasi Muda, Kebiasaan Kurang Gerak Diduga Jadi Penyebabnya

Bahkan, terang Amin, perangkat dan warga juga sudah menggalang iuran untuk membantu meringankan beban pasien. Namun, karena kondisi pasien yang tak kunjung sembuh, sehingga upaya yang dilakukan pemerintah desa bersama warga berakhir mentok.

‘’Kondisi sakit pasien ini sudah berbulan-bulan, dan harus riwa-riwi terus. Pemerintah desa dan warga sudah membantu, tapi desa juga tidak memiliki ambulans,’’ tuturnya. Apalagi, keuangan desa pada tahun ini juga terpangkas hampir habis, sehingga tidak ada yang bisa diupayakan lebih lanjut. (tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban kanker RSUD Dr. Soetomo surabaya