Puncak Kemarau Belum Tiba, Ratusan Warga Dua Desa di Tuban Sudah Alami Krisis Air Bersih

Andreyan (An) • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:16 WIB
Warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Parengan mengantre pasokan air bersih yang disalurWkan oleh petugas BPBD Tuban, Senin (4/8). (BPBD Tuban untuk Radar Tuban)
Warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Parengan mengantre pasokan air bersih yang disalurWkan oleh petugas BPBD Tuban, Senin (4/8). (BPBD Tuban untuk Radar Tuban)

RADARTUBAN - Musim kemarau di Kabupaten Tuban belum mencapai puncaknya. Namun, dampaknya mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah.

Sedikitnya 725 warga di dua desa telah mengalami kesulitan memperoleh air bersih dan bergantung pada bantuan distribusi air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban.

Data BPBD Tuban mencatat, warga terdampak tersebar di Desa Ngandong, Kecamatan Grabagan sebanyak 450 jiwa dan Desa Sugihwaras, Kecamatan Parengan sebanyak 275 jiwa. 

Baca Juga: Meski Masih Kategori Normal, BMKG Ungkap Wilayah Tuban Paling Rawan Kekeringan

Dalam sepekan terakhir, kedua desa tersebut telah menerima bantuan air bersih melalui layanan droping BPBD.

Kepala Pelaksana BPBD Tuban Sudarmaji mengatakan, hingga awal Agustus ini baru dua desa yang melaporkan kekurangan pasokan air bersih. Kedua wilayah tersebut telah lama masuk dalam kawasan yang rawan mengalami kekeringan saat musim kemarau.

"Dua kali dalam sepekan kami droping air bersih di dua desa tersebut, terakhir kami laksanakan kemarin (Senin, Red)," ujar Sudarmaji kepada Jawa Pos Radar Tuban, Selasa (4/8).

Menurut dia, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dengan kondisi cuaca yang lebih panas dan kering akibat pengaruh fenomena El Nino. 

Karena itu, kebutuhan air bersih masyarakat berpotensi terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan. "Informasi yang kami terima, puncak musim kemarau diperkirakan Agustus. Tak menutup kemungkinan pada bulan berikutnya kondisinya masih seperti saat ini," tuturnya.

BPBD juga mengacu pada pemantauan pos hujan yang menunjukkan bahwa pada Dasarian I Agustus 2026, kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) di Jawa Timur bervariasi, mulai kategori sangat pendek, yakni 1–5 hari, hingga kategori kekeringan ekstrem dengan durasi lebih dari 60 hari. 

Sementara itu, curah hujan di wilayah Jawa Timur pada periode yang sama diperkirakan berada pada kategori rendah dengan peluang lebih dari 90 persen.

Meski baru dua desa yang mengalami kekurangan air bersih, BPBD terus memantau sejumlah wilayah lain yang berpotensi mengalami kondisi serupa. Langkah itu dilakukan agar distribusi bantuan air dapat segera dilakukan apabila kebutuhan masyarakat meningkat.

"Musim kemarau diprediksi masih panjang, masyarakat diimbau tetap waspada potensi bencana kekeringan yang meluas," kata Sudarmaji. (an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban kekeringan BPBD EL Nino