Ibarat Fenomena Gunung Es, Aktivis Sosial Bebagikan Realita Pahit Pasien Miskin Tuban yang Terjerat Ongkos Kontro

Ahmad Atho'illah • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 14:03 WIB
Pilu pasien miskin Tuban yang harus utang demi kontrol ke Surabaya. Aktivis sosial tekankan pentingnya armada gratis. (Radar Tuban)
Pilu pasien miskin Tuban yang harus utang demi kontrol ke Surabaya. Aktivis sosial tekankan pentingnya armada gratis. (Radar Tuban)

RADARTUBAN – Rina Rahman, pengelola Sedekah Rombongan (SR) Tuban menilai kasus pasien miskin yang mengalami kesulitan biaya setelah dirujuk ke rumah sakit luar daerah ibarat fenomena gunung es. Pasalnya, yang termonitor hanya sebagian kecil yang tampak di permukaan.

‘’(Pasien miskin yang kesulitan biaya berobat setelah dirujuk ke luar daerah, Red) yang viral atau yang terdeteksi itu hanya nol koma nol sekian persen dari sekian banyak kasus,’’ kata Rina kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Diungkapkan Rina, di banyak daerah, termasuk di Kabupaten Tuban, hampir semua pasien miskin yang dirujuk ke rumah sakit luar daerah mengalami kesulitan biaya operasional.

Baca Juga: Sempat Tertunda Dua Pekan, Pasien Kanker Usus Asal Tuban Akhirnya Bisa Berangkat Kontrol ke Surabaya

Sebab, kendati biaya pengobatan pasien sudah ditanggung negara melalui program penerima bantuan iuran (PBI) JKN-KIS dan ada ambulans atau kendaraan yang bisa dipakai mengantar pasien, namun tetap saja harus mengeluarkan biaya BBM dan ongkos sopir.

Padahal, jangankan biaya operasional, untuk memenuhi kebutuhan makan saja sudah pontang-panting. ‘’Setiap pasien yang kami tangani kondisinya seperti itu (kesulitan biaya untuk berangkat kontrol, Red),’’ terang aktivis sosial asal Kecamatan Bancar itu.

Ditegaskan Rina, selama ambulans yang dimiliki SR tidak sedang di luar kota mengantar pasien atau mengalami kendala teknis, maka selama itu pula SR siap mengantar pasien ke tempat tujuan kontrol tanpa sepeser pun dipungut biaya.

Pun sesampainya di kota tujuan—saat menunggu jadwal pemeriksaan, pasien dan keluarga juga bisa menginap atau sekadar singgah di rumah singgah SR dengan fasilitas yang juga gratis. Bahkan, juga disediakan makan untuk pasien dan keluarga yang mendampingi.

‘’Untuk kasus Pak Nasirudin (pasien kanker usus asal Dusun Krajan, Desa Lajukidul, Kecamatan Singgahan, red), kami kemarin memang ada kendala. Ambulans kami sedang di bengkel. Karena itu, kami melakukan koordonasi dengan Lazisnu (untuk kendaraan ambulansnya, red) sehingga kami hanya bisa memfasilitasi rumah singgah,’’ tuturnya. 

Sebagai organisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial, Rina paham betul bahwa problem yang dihadapi pasien miskin adalah ketika dirujuk ke rumah sakit luar daerah. Sebab, yang dipikirkan pertama kali oleh keluarga adalah ongkos berangkat kontrol.

Kendati tidak menyampaikan secara tersurat akan pentingnya fasilitas ambulans gratis bagi pasien miskin, Rina menegaskan bahwa ambulan gratis—tanpa sepeser pun dipungut biaya dengan embel-embel BBM dan tenaga sopir, adalah kebutuhan bagi pasien miskin yang dirujuk ke rumah sakit luar daerah.

‘’Selama kami (SR, red) bisa membantu akan bantu,’’ tandasnya.

Sebagaimana diketahui, kasus yang sama juga pernah dialami almarhum Kasmain, 69, pasien tumor mata asal Kelurahan Sukolilo, Kecamatan Tuban pada Mei 2025 yang pontang-panting hingga utang sana-sini demi memenuhi ongkos operasional dan kebutuhan keluarga setelah dirujuk ke RSUD dr. Soetomo Surabaya karena tidak ada ambulans gratis yang disediakan pemerintah daerah, hingga akhirnya dibantu oleh SR.(tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban sosial pasien gunung es aktivis