Diduga Tercemar Limbah Cuci Pasir Kuarsa, Kawasan Mangrove Center Tuban Berubah Cokelat dan Mengendap Lumpur

Andreyan (An) • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 14:33 WIB
Kondisi kawasan Mangrove Center Tuban tampak keruh berwarna coklat, diduga tercemar limbah cucian pasir kuarsa, Rabu (5/8). (Andreyan/Radar Tuban)
Kondisi kawasan Mangrove Center Tuban tampak keruh berwarna coklat, diduga tercemar limbah cucian pasir kuarsa, Rabu (5/8). (Andreyan/Radar Tuban)

RADARTUBAN - Kawasan Mangrove Center Tuban yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat konservasi pesisir di Kabupaten Tuban menghadapi persoalan lingkungan.

Perairan di sekitar kawasan tersebut berubah berwarna kecokelatan dan dipenuhi endapan sedimen. Warga menduga kondisi itu dipicu limbah dari aktivitas pencucian pasir kuarsa di sekitar lokasi.

Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (5/8), menunjukkan air sungai yang bermuara ke kawasan mangrove tampak keruh dengan sedimen yang mengendap di sejumlah titik.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran warga, nelayan, maupun pengunjung karena dinilai berpotensi mengganggu ekosistem pesisir.

Baca Juga: Pesona Keajaiban Alam San'in Kaigan di Jepang, Lokasi Unik Pertemuan Salju, Pasir, dan Lautan

Setiawan, warga setempat, mengatakan, perubahan warna air telah terjadi sejak cukup lama.

Namun, hingga kini belum terlihat langkah penanganan yang dinilai mampu mengatasi persoalan tersebut. "Sudah sejak lama, namun seolah ada pembiaran," ujarnya.

Warga Desa Beji, Kecamatan Jenu, itu menuturkan pencemaran tidak hanya mengubah kondisi perairan, namun juga mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat yang bergantung pada kawasan tersebut.

Menurut dia, sedimentasi membuat alur sungai semakin dangkal, sehingga perahu nelayan sulit bersandar. Selain itu, hasil tangkapan ikan juga disebut mengalami penurunan.

"Semakin lama wilayah sungai di sekitar sini semakin dangkal dan sempit, sudah tidak bisa lagi digunakan untuk menyandarkan perahu," katanya.

Keluhan serupa disampaikan Asrori, warga lainnya. Dia menyoroti semakin banyaknya aktivitas pencucian pasir kuarsa di sekitar Mangrove Center Tuban maupun desa-desa sekitarnya.

Menurut Asrori, apabila kegiatan tersebut telah mengantongi perizinan, seharusnya juga dilengkapi fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai agar limbah tidak langsung dibuang ke badan air.

"Jika memiliki izin dan memenuhi standar, harusnya memiliki pengolahan limbah yang layak, bukan dibuang ke aliran sekitar yang bahkan mencemari laut," ujarnya.

Dia berharap pemerintah daerah segera melakukan pengawasan dan penanganan. Menurut dia, apabila pencemaran terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir.

Baca Juga: Diduga Cemari Sawah, Perusahaan Pencucian Kuarsa di Jenu Ditutup Paksa

Kekhawatiran juga datang dari pengunjung Mangrove Center Tuban. Nafisah menilai endapan lumpur berwarna kecokelatan mulai memasuki kawasan vegetasi mangrove. Kondisi itu dikhawatirkan dapat menghambat pertumbuhan tanaman mangrove yang menjadi fungsi utama kawasan konservasi tersebut.

"Saya lihat lumpur-lumpur warna coklat itu mulai masuk sekitar mangrove, takut kalau lama-lama mangrovenya mati," tuturnya.

Hingga berita ini ditulis, Kepala Bidang Tata Lingkungan, Pengendalian Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban, Andi Setiawan, belum memberikan tanggapan.

Upaya konfirmasi yang dilakukan Jawa Pos Radar Tuban melalui sambungan telepon dan pesan singkat belum memperoleh respons hingga kemarin pukul 17.20. (an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Kawasan mangrove pasir kuarsa Tuban jenu