Pekerja Proyek Sekolah Rakyat Tuban Keluhkan Gaji Telat, Ada yang Belum Lunas Sebulan

M. Mahfudz Muntaha • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 15:05 WIB
Kondisi lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi Tuban 1 yang masih banyak pekerjaan, meski para siswa sudah melakukan masa pengenalan lingkungan sekolah. (M.MAHFUDZ MUNTAHA/RADAR TUBAN)
Kondisi lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi Tuban 1 yang masih banyak pekerjaan, meski para siswa sudah melakukan masa pengenalan lingkungan sekolah. (M.MAHFUDZ MUNTAHA/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN-Keluhan mengenai keterlambatan pembayaran upah pekerja proyek pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Tuban mencuat di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah pekerja mengaku gaji yang seharusnya diterima sesuai kesepakatan belum dibayarkan hingga berminggu-minggu.

Keluhan pertama disampaikan melalui akun Facebook bernama Kang Arie. Dalam unggahannya, pemilik akun yang mengaku sebagai pekerja borongan bagian pemasangan keramik menyebut pembayaran upah mengalami keterlambatan hingga memasuki minggu keempat. Menurut dia, masih ada pekerjaan yang belum dibayarkan.

Unggahan tersebut disusul video yang memperlihatkan sejumlah pekerja menghentikan aktivitas pada Senin (3/8). Video itu kemudian memicu beragam tanggapan dari warganet, termasuk komentar dari sejumlah akun yang mengaku mengalami persoalan serupa.

Beberapa di antaranya menyatakan upah belum dibayarkan, meski telah berulang kali dijanjikan. Ada pula yang mengeluhkan besaran upah harian yang dinilai rendah.

"Proyeke remok, murah hariane bayarane angel sisan," tulis salah satu akun dalam kolom komentar.

Baca Juga: Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Tuban Ikuti MPLS, Jadi Momen Pengenalan Lingkungan Baru

Sejumlah warganet juga menyoroti proyek tersebut karena dikerjakan oleh badan usaha milik negara (BUMN), namun masih muncul keluhan mengenai keterlambatan pembayaran upah pekerja.

Dikonfirmasi secara terpisah, pemilik akun Kang Arie mengatakan dirinya telah memutuskan berhenti bekerja karena persoalan pembayaran upah.

Meski demikian, dia mengaku masih berkomunikasi dengan rekan-rekannya yang tetap bekerja di proyek tersebut.

Menurut dia, keterlambatan pembayaran masih terus terjadi. Padahal, berdasarkan kesepakatan awal, upah seharusnya dibayarkan setiap dua pekan. "Keluhan masih sama, gaji molor hingga beberapa minggu padahal akad kerja gaji dua minggu sekali. Tapi banyak yang sudah tiga minggu, bahkan satu bulan belum dibayar lunas, hanya dikasih bon-bon saja," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Hingga Kamis (6/8), dia mengaku masih menerima informasi bahwa sebagian pekerja belum menerima pembayaran penuh. Bahkan, upah miliknya yang tertunda baru diterima sekitar dua pekan setelah dirinya keluar dari proyek tersebut. "Itu pun dibayar dengan dicicil," katanya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan sekaligus Koordinator Wilayah Tuban, Agus Saputra belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi mengenai penyebab keterlambatan pembayaran upah maupun tindak lanjut penyelesaiannya.

Terpisah, Pengawas Ketenagakerjaan Ahli Muda Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur Subkorwil Tuban, Erny Kartikasari mengatakan, persoalan tersebut telah masuk sebagai laporan pengaduan.

"Laporannya ke IG (Instagram) resmi Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Tuban," ujarnya.

Dia menambahkan, penanganan lebih lanjut terhadap laporan tersebut berada di Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Tuban.(fud/ds)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Tuban pekerja upah Sekolah Rakyat gaji