Menembus Ombak 4 Meter Demi Nasabah: Kisah Tangguh Wa Ode Titin, Srikandi Mantri BRI di Kepulauan Wakatobi

Ardian Ananto • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 13:03 WIB
Mengenal Wa Ode Sitti Rahmatiah, Mantri BRI Unit Wangi-Wangi yang gigih melayani sembilan desa kepulauan di Wakatobi demi ekonomi masyarakat. (BRI)
Mengenal Wa Ode Sitti Rahmatiah, Mantri BRI Unit Wangi-Wangi yang gigih melayani sembilan desa kepulauan di Wakatobi demi ekonomi masyarakat. (BRI)

RADARTUBAN – Di gugusan Kepulauan Wakatobi—wilayah yang tersohor hingga manca negara karena keindahan bawah lautnya—tersimpan cerita tentang keteguhan hati.

Di balik ketenangan air lautnya, ada tantangan nyata bagi mereka yang bertugas memastikan roda ekonomi warga tetap berputar di perbatasan negeri.

Salah satunya adalah Wa Ode Sitti Rahmatiah Jufri, atau yang akrab disapa Titin. Dia merupakan Mantri BRI dari Unit Wangi-Wangi, Kantor Cabang BRI Baubau, yang bertugas sebagai ujung tombak literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Baca Juga: BRI Peduli Bangun Posyandu Matahari di Sleman, Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak

Sejak dimutasi pada Januari 2024, Titin harus menerima kenyataan bahwa wilayah kerjanya bukan sekadar daratan, melainkan sembilan desa di Pulau Kaledupa. Untuk sampai ke sana, ia wajib menyeberangi lautan lepas dari ibu kota kabupaten, Wangi-Wangi.

Perjalanan rutin Titin menuju Kaledupa adalah sebuah narasi tentang keberanian. Dalam kondisi normal, menyeberang menggunakan speedboat atau kapal fiber memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit. Namun, saat cuaca buruk, perjalanan bisa membengkak lebih dari dua jam di tengah gempuran ombak.

“Pengalaman paling melekat adalah saat harus menyeberang pada musim ombak besar sekitar Januari atau Februari. Cuaca mendadak gelap dan tidak ada kapal reguler yang berani berlayar. Karena komitmen kepada nasabah, saya mencari cara lain. Akhirnya kami menyewa body batang (perahu kayu kecil bermesin) milik warga suku Bajo,” kenang Titin.

Titin bersama lima orang lainnya memaksakan diri menembus lautan yang sedang bergolak. Di tengah laut, mereka harus berhadapan langsung dengan gulungan ombak setinggi empat meter.

Lailahaillallah, kalau kita sedang di atas puncak ombak, melihat ke bawah itu rasanya tinggi sekali. Kita dihempas naik-turun, dan di sekeliling cuma ada air,” tuturnya menggambarkan situasi mencekam tersebut.

Perjalanan yang seharusnya singkat itu membengkak menjadi hampir tiga jam. Tiba di Wangi-Wangi menjelang magrib dengan pakaian basah kuyup dan kelelahan, Titin bersyukur masih diberi keselamatan. Pengalaman itu makin menegaskan baginya bahwa profesi Mantri bukan sekadar berurusan dengan angka, tetapi juga pengabdian setulus hati.

Menghidupkan Ekonomi Rumput Laut dan Kopra

Motivasi terbesar Titin bertahan di wilayah ekstrem adalah keinginan untuk membantu sesama. Dia paham betul ekonomi masyarakat kepulauan Wakatobi sangat bergantung pada musim.

Di Kaledupa, mayoritas warga menggantungkan hidup dari budidaya rumput laut dan pengolahan kopra.

“Saat musim ombak besar, hasil rumput laut biasanya hancur diterjang arus. Di saat itulah masyarakat beralih mengolah kopra,” ujar Titin.

Di situlah peran Titin menjadi sangat vital. Ia tidak hanya menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai modal kerja, tetapi juga mendampingi nasabah mencari solusi pemasaran.

Titin teringat perjuangan seorang anak nasabah yang gigih mengumpulkan kopra hingga mendapat empat karung tambahan. Hasil penjualan itu digunakan untuk menutup biaya kuliah sekaligus membantu orang tuanya membayar cicilan pinjaman.

Baca Juga: BRI Optimistis Dana SAL Perkuat Likuiditas, Kredit Berkualitas untuk UMKM Makin Kencang

Melihat kejujuran dan kegigihan keluarga tersebut, Titin berinisiatif menghubungkan mereka dengan pembeli. Mengandalkan data klaster pengusaha kopra yang dimiliki BRI, ia mempertemukan nasabah langsung dengan pengepul yang memiliki akses ekspedisi sendiri.

“Kami di BRI memiliki data klaster pengusaha. Saya bantu pertemukan dengan pembeli langsung agar warga tidak kesulitan menjual hasil buminya,” jelasnya.

Bagi Titin, melihat nasabah mampu menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi berkat dukungan modal BRI memberikan kepuasan batin yang tidak ternilai.

Menembus Batas Sinyal dan Gender

Tantangan di Kaledupa tak berhenti pada tingginya ombak, tetapi juga keterbatasan infrastruktur digital. Masih ada beberapa wilayah kerja Titin yang tergolong blank spot atau tanpa sinyal.

Meski begitu, layanan BRI tetap menjangkau masyarakat. Dari sembilan desa yang diampu Titin, empat AgenBRILink berhasil diaktifkan di lokasi yang memiliki jaringan internet memadai.

Total ada enam agen aktif yang kini menjadi perpanjangan tangan layanan BRI di pulau tersebut.

Titin tak lelah mengedukasi warga tentang transaksi digital, termasuk penggunaan aplikasi BRImo. Perlahan, masyarakat mulai memanfaatkan BRImo untuk kebutuhan sehari-hari: membayar tagihan, mengirim uang untuk anak yang kuliah di luar daerah, hingga transaksi usaha.

Upaya jemput bola ini membuahkan hasil nyata. Sejak Titin bertugas, jumlah nasabah di wilayah Kaledupa melonjak hingga 70 persen, dari yang semula sekitar 100 orang menjadi hampir 300 orang.

Sebagai perempuan pertama yang ditempatkan di wilayah kerja ekstrem Kaledupa—yang sebelumnya selalu diisi oleh pria—Titin membuktikan bahwa gender bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi.

“Jangan pilih-pilih tempat kerja atau wilayah. Kita harus kuat, karena banyak orang di luar sana yang menggantungkan kelangsungan usahanya pada kita,” pesan Titin kepada rekan sesama Mantri BRI di seluruh Indonesia.

Secara terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan bahwa dedikasi Wa Ode Sitti Rahmatiah Jufri merupakan gambaran nyata komitmen BRI untuk hadir hingga pelosok negeri.

“Melalui tangan dingin para Mantri seperti Titin, BRI tidak hanya menyalurkan modal, tetapi juga menyemai harapan. Kami memastikan setiap warga negara, seberapa jauh pun keberadaan mereka di kepulauan, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh secara ekonomi. Dedikasi ini membuktikan bahwa pelayanan setulus hati mampu menembus ombak setinggi empat meter sekalipun,” tegas Dhanny.  (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Mantri Baubau BRI