RADARTUBAN - Ancaman kekeringan di Kabupaten Tuban diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban bahkan memperingatkan bahwa periode paling kering belum sepenuhnya terlewati.
Awal musim penghujan tahun ini berpotensi datang lebih lambat dari biasanya.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Tuban Muchamad Nur mengatakan, seluruh wilayah Tuban saat ini masih berada dalam fase musim kemarau yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan pemantauan BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Namun, kondisi tersebut masih dapat bergeser akibat pengaruh El Nino yang menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dan suhu udara terasa lebih terik.
Baca Juga: Meski Masih Kategori Normal, BMKG Ungkap Wilayah Tuban Paling Rawan Kekeringan
“Dalam data terbaru yang kami himpun, wilayah Kabupaten Tuban masuk dalam peringatan dini kekeringan meteorologis pada dasarian I Agustus 2026. Tuban masuk kategori siaga yang pada peta ditandai dengan warna coklat,” ujar Nur.
Menurut dia, status siaga menunjukkan bahwa ancaman kekeringan telah memasuki level yang memerlukan kewaspadaan lebih tinggi. Kondisi itu diperkuat dengan prediksi mundurnya awal musim penghujan yang berpotensi memperpanjang durasi kekeringan di sejumlah wilayah.
Dengan puncak kemarau yang diperkirakan belum terlampaui, risiko meluasnya dampak kekeringan di berbagai daerah di Bumi Wali juga semakin besar.
Masyarakat yang selama ini menjadi langganan kekeringan diminta mulai mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air bersih.
Gejala tersebut mulai terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Dua desa, yakni Desa Sugiwaras di Kecamatan Parengan dan Desa Ngandong di Kecamatan Grabagan, telah mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat kemarau berkepanjangan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban mencatat sedikitnya 725 warga di dua desa tersebut terdampak krisis air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD telah menyalurkan bantuan melalui program distribusi air bersih.
Selain mengancam ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga, kemarau yang berkepanjangan juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian. Mundurnya awal musim hujan diperkirakan akan menggeser jadwal tanam petani, terutama di kawasan yang memiliki keterbatasan sumber air.
Nur mengingatkan petani agar menyesuaikan pola dan waktu tanam dengan kondisi cuaca yang berkembang. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko kerugian akibat kekurangan air selama masa pertumbuhan tanaman.
‘’Petani perlu menyesuaikan masa tanam dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air saat ini untuk meminimalkan risiko gagal panen,” kata Nur.
Baca Juga: Puncak Kemarau Tiba Lebih Awal, Tiga Kecamatan di Tuban Mulai Waspada Kekeringan
BMKG mengimbau masyarakat terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan secara berkala.
Dengan demikian, langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan dapat dilakukan lebih awal, baik untuk kebutuhan air bersih maupun aktivitas pertanian. (an/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban