IKG Tuban 2025 Naik: Ketimpangan Gender Memburuk Setelah 6 Tahun, Ini Pemicunya

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:26 WIB
Ilustrasi infografis Indeks Ketimpangan Gender Kabupaten Tuban 2025 (RADAR TUBAN/ AI)
Ilustrasi infografis Indeks Ketimpangan Gender Kabupaten Tuban 2025 (RADAR TUBAN/ AI)

RADARTUBAN – Tren positif penanganan ketimpangan gender di Kabupaten Tuban yang terpelihara selama enam tahun berturut-turut akhirnya pecah pada 2025. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) mendadak melebar menjadi 0,229.

Angka tersebut naik 0,016 poin jika dibandingkan dengan capaian 2024 yang sempat menyentuh level 0,213.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Tuban, kemunduran capaian IKG tersebut utamanya dipicu oleh menurunnya performa pada dua sektor kunci, yakni dimensi pasar tenaga kerja dan dimensi pemberdayaan.

Pada dimensi pemberdayaan, persentase perempuan berusia 25 tahun ke atas berpendidikan minimal SMA sederajat pada 2025 merosot ke angka 20,29 persen. Capaian ini tergerus 3,14 persen ketimbang tahun sebelumnya.

Penurunan serupa juga terjadi pada tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang melorot 0,68 poin dari 59,41 persen pada 2024 menjadi 58,73 persen pada 2025.

Baca Juga: Data Indeks Ketimpangan Gender Tuban: Diska Tinggi, Angka Reproduksi Membaik, tapi Kualitas Pendidikan dan Angkatan Kerja Turun

Meskipun demikian, secara spasial di tingkat regional, kondisi Tuban sejatinya tidak sepenuhnya kelam. Capaian IKG Tuban pada 2025 terhitung masih relatif lebih baik karena posisinya masih berada di bawah rata-rata angka ketimpangan gender Provinsi Jawa Timur.

Sebab, semakin kecil nilai IKG atau mendekati nol, maka menunjukkan semakin rendahnya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan.

Menanggapi menurunnya performa kesetaraan gender, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3APMD) Tuban Sugeng Purnomo menegaskan, bahwa persoalan ini memiliki akar masalah yang berbeda-beda dan kompleks.

‘’Persoalan ini sangat kompleks, harus dilihat dari berbagai aspek dulu,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Dia melanjutkan, salah satu yang memengaruhi gap gender ini adalah budaya patriarki yang masih mengakar pada masyarakat Indonesia. Pola pikir perempuan harus dirumah dibandingkan bekerja menjadi salah satu faktor penyebabnya. 

''Terkadang juga adapula perempuan yang memilih untuk menyerahkan beberapa urusan sosial kepada laki-laki," lanjutnya.

Selain itu, fenomena banyaknya remaja yang mengajukan diska dan melakukan pernikahan di usia muda juga turut berdampak pada partisipasi perempuan dalam pendidikan. 

''Meski demikian, saat ini bisa dilihat pada beberapa aspek jika perempuan sudah cukup banyak yang berkiprah. Mulai dari anggota dewan, kemudian tenaga kerja perempuan juga tidak lagi sedikit," jelasnya.

Untuk menambal celah gap gender yang kembali melebar, Sugeng membeberkan bahwa pihaknya telah melakukan rentetan kegiatan pemberdayaan wanita.

Dia menyebut, telah menjalankan bermacam program sosialisasi dan kegiatan pemberdayaan guna meningkatkan kapasitas serta memperluas kiprah kaum perempuan di ruang publik maupun lingkungan sosialnya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban
IKG Tuban ketimpangan gender Tuban BPS Tuban Dinsos P3A Pemdes Tuban