RADARTUBAN – Warga di berbagai wilayah Kabupaten Tuban belakangan ini harus beradaptasi dengan perubahan cuaca yang cukup kontras akibat diterpa puncak fenomena bediding.
Kondisi cuaca Tuban hari ini terasa sangat fluktuatif, di mana sengatan terik matahari terasa membakar kulit pada siang hari, namun mendadak berubah drastis menjadi hawa dingin yang bikin menggigil saat malam hingga pagi tiba.
Baca Juga: Fenomena Bediding Melanda Jawa Timur, BMKG Imbau Waspada Dampak Kesehatan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, bahwa perubahan suhu udara yang ekstrem di wilayah Bumi Wali saat ini menandakan bahwa fenomena tahunan ini telah memasuki fase puncaknya seiring berjalannya pertengahan Agustus 2026.
Kepala Stasiun BMKG Kelas III Kabupaten Tuban Muchammad Nur menegaskan, bahwa fenomena bediding merupakan hal yang wajar terjadi saat musim kemarau.
Namun, intensitas penurunan suhunya memang terasa jauh lebih tajam pada bulan ini.
"Kondisi udara yang terasa jauh lebih dingin dari biasanya pada malam hingga pagi hari ini memang fenomena bediding. Ini umum terjadi pada musim kemarau dan puncak fenomena bediding 2026 di wilayah Jawa Timur rata-rata terjadi sekitar bulan Agustus," ungkap Nur saat dikonfirmasi, Selasa (18/8).
Penyebab Tuban Dingin Menggigil
Berdasarkan penjelasan BMKG Tuban, ada faktor dinamika atmosfer khusus yang melatarbelakangi perbedaan suhu yang begitu menyengat di siang hari dan menusuk tulang di malam hari.
Penyebab utama yang menjadi pemicunya adalah sangat minimnya tutupan awan di atas langit Tuban serta tingkat kelembapan udara yang berada pada kondisi relatif kering.
Nur menjelaskan bahwa awan pada dasarnya berfungsi sebagai "selimut" bumi. Ketika lapisan awan tidak terbentuk akibat kondisi udara kering di puncak kemarau, proses radiasi panas bumi berjalan tanpa hambatan
Ketiadaan awan penutup membuat sinar matahari terpancar sempurna tanpa penghalang langsung ke permukaan tanah.
Hal ini memicu lonjakan suhu udara yang membuat siang hari di Tuban terasa sangat panas dan menyengat kulit.
Sementara pada malam hari, energi panas yang telah diserap oleh bumi sepanjang siang hari dilepaskan kembali secara cepat ke atmosfer luar tanpa ada lapisan awan yang memantulkannya kembali ke bumi.
Akibat pelepasan panas yang berlangsung singkat ini, suhu permukaan tanah merosot tajam.
Inilah yang menjadi penyebab Tuban dingin menggigil secara mendadak begitu matahari terbenam hingga menjelang subuh.
"Karena tutupan awan sedikit dan udara kering, pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari berlangsung lebih cepat sehingga suhu terasa jauh lebih dingin," tambah pria yang pernah bertugas di Stasiun Meteorologi Aek Godang, Sumatera Utara tersebut.
Sampai Kapan Bediding Bertahan di Jawa Timur?
Melihat kondisi atmosfer saat ini, tim BMKG memprakirakan bahwa hawa dingin khas monsun Australia ini akan membalut wilayah Tuban dan sekitarnya selama dominasi musim kemarau di Jawa Timur masih bertahan kuat.
Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tidak khawatir berlebihan.
Pria kelahiran Magelang tersebut memastikan bahwa sampai kapan bediding bertahan akan sangat bergantung pada transisi musim, dan intensitas dinginnya akan perlahan mereda.
"Ke depan, saat wilayah kita mulai memasuki masa peralihan atau pancaroba menuju musim hujan yang ditandai dengan peningkatan tutupan awan serta kelembapan, suhu dingin pada malam hari akan berangsur-angsur berkurang dan kembali normal," pungkas Nur. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban