Tadarus Puisi, Cara Warga Senori Tuban Rayakan Kemerdekaan Sambil Merawat Literasi

Yudha Satria Aditama • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:40 WIB
Ruang publik di Senori berubah menjadi panggung literasi saat Tadarus Puisi digelar untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. (Radar Tuban)
Ruang publik di Senori berubah menjadi panggung literasi saat Tadarus Puisi digelar untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. (Radar Tuban)

RADARTUBAN – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak selalu harus dirayakan dengan perlombaan.

Di Senori, semangat kemerdekaan hadir melalui cara berbeda. Yakni dengan merawat tradisi literasi melalui kegiatan Tadarus Puisi.

Ruang publik di Senori disulap menjadi panggung literasi terbuka pada Senin malam (17/8). Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan, kegelisahan, hingga harapan melalui karya sastra.

Baca Juga: Peringati Hari Kemerdekaan, Yuk Kilas Balik Perbedaan Penjajahan Belanda dan Jepang

Tadarus Puisi merupakan kolaborasi organisasi kepemudaan dan masyarakat di Kecamatan Senori bersama komunitas literasi Omah Baca Santri di Desa Jatisari, Kecamatan Senori.

Mengusung tema “Putra Bangsa Bebas Merdeka”, kegiatan tersebut diikuti pegiat sastra, mahasiswa, serta masyarakat sekitar. Menariknya, warga yang kebetulan melintas juga turut berhenti dan ikut membacakan puisi.

Antusiasme spontan tersebut menjadi gambaran bahwa potensi literasi masyarakat desa cukup besar. Hanya saja, ruang untuk mengekspresikan gagasan melalui karya sastra masih terbatas.

Pendiri Omah Baca Santri, Muhamad Ulil Arham, mengatakan antusiasme warga menjadi hal yang paling menarik dalam kegiatan tersebut.

“Sastrawan desa ternyata banyak sekali. Kami melihat antusiasme luar biasa dari warga yang lalu lalang. Mereka mampir untuk membacakan puisi,” ujarnya.

Menurut Ulil, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara efektif untuk mendekatkan sastra kepada masyarakat. Sastra, kata dia, tidak semestinya hanya tumbuh di ruang-ruang eksklusif.

“Kegiatan ini sangat inspiratif karena mampu membawa sastra keluar dari ruang eksklusif dan menyapa masyarakat secara langsung,” tuturnya.

Dia menambahkan, spontanitas warga yang ikut tampil menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap literasi. Karena itu, ruang publik yang memungkinkan masyarakat bebas berekspresi perlu terus didorong.

Bagi Ulil, Tadarus Puisi tidak sekadar menjadi kegiatan kesenian. Momentum tersebut juga menjadi ruang untuk merefleksikan kembali makna kemerdekaan.

Kemerdekaan, menurutnya, bukan hanya tentang memperingati sejarah setiap Agustus. Lebih dari itu, kemerdekaan merupakan amanah yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana reflektif semakin terasa ketika Ketua PC GP Ansor Tuban Abdul Muiz turut membacakan karya terbarunya berjudul “Siapakah Aku”.

Baca Juga: Jejak Karier Jenderal Putra Asli Palembang Sumatera Selatan, Irjen Pol Tomex Kurniawan yang Baru Purna Tugas

Puisi tersebut mengajak peserta melakukan perenungan tentang diri dan kehidupan. Pembacaan karya itu sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan.

Pesan yang ingin disampaikan pun menjadi semakin kuat. Puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan dapat menjadi ruang perenungan dan doa. Sementara kemerdekaan bukan sekadar perayaan, tetapi amanah yang harus dijaga dan diwujudkan.

Penyelenggara berharap Tadarus Puisi tidak berhenti sebagai kegiatan memperingati HUT Kemerdekaan RI. Agenda tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi ruang berkelanjutan bagi generasi muda Senori.

Melalui ruang tersebut, tradisi intelektual diharapkan terus tumbuh, budaya baca-tulis semakin hidup, dan masyarakat memiliki wadah untuk menyampaikan gagasan melalui seni dan sastra yang bermartabat. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban senori kemerdekaan Indonesia