BMKG Tuban Ingatkan Gelombang 2,5 Meter di Laut Jawa, Nelayan Diminta Waspada

Andreyan (An) • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 12:49 WIB
Puluhan perahu milik para nelayan Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban bersandar di tepi, imbas gelombang tinggi yang melanda perairan pantura Tuban. (Andreyan/Radar Tuban)
Puluhan perahu milik para nelayan Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban bersandar di tepi, imbas gelombang tinggi yang melanda perairan pantura Tuban. (Andreyan/Radar Tuban)

RADARTUBAN – Nelayan dan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai utara (pantura) Tuban diminta meningkatkan kewaspadaan. Angin kencang dan gelombang tinggi berpotensi melanda perairan Laut Jawa dalam beberapa hari ke depan.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban, gelombang kategori sedang berpotensi terjadi di perairan Tuban pada 20–21 Agustus 2026. Dalam kondisi tertentu, tinggi gelombang diperkirakan dapat mencapai 1,25 hingga 2,5 meter.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III BMKG Tuban Muchammad Nur menjelaskan, peningkatan tinggi gelombang berkaitan dengan dinamika angin di wilayah perairan. Angin dominan bertiup dari timur hingga tenggara dengan kecepatan sekitar 5–25 knot.

Baca Juga: Bursa Transfer Serie A : Dušan Vlahovic Melunak, Juventus Dapat Angin Segar Lagi

Kondisi tersebut berpotensi mendorong peningkatan tinggi gelombang. Karena itu, kondisi laut saat nelayan berangkat tidak dapat menjadi satu-satunya patokan untuk menentukan keamanan aktivitas melaut.

“Perubahan arah maupun kecepatan angin dapat memengaruhi kondisi gelombang dalam waktu relatif singkat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Mantan kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Aek Gondang, Sumatera Utara, itu juga menepis anggapan bahwa peningkatan gelombang menjadi pertanda musim penghujan segera tiba.

Menurut dia, kondisi gelombang laut lebih berkaitan dengan dinamika angin, kondisi atmosfer dan laut, serta swell atau gelombang rambatan dari wilayah lain.

“Belum bisa disimpulkan bahwa peningkatan gelombang ini merupakan tanda pergantian musim menuju musim penghujan. Tinggi gelombang tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator pergantian musim,” tegasnya.

Secara klimatologis, Jawa Timur pada Agustus 2026 masih berada dalam periode musim kemarau. Bahkan, sebagian besar wilayah diprakirakan memasuki puncak musim kemarau pada bulan ini.

Meski demikian, potensi gelombang hingga 2,5 meter tetap perlu diwaspadai. Nelayan, kapal-kapal berukuran kecil, serta masyarakat pesisir diminta memperhitungkan kondisi cuaca dan gelombang sebelum beraktivitas di laut.

“Kami mengimbau masyarakat, khususnya nelayan untuk senantiasa tetap mengikuti perkembangan prakiraan BMKG. Kondisi laut sangat dinamis dan bisa berubah sewaktu waktu,” tandasnya. (an/ds) 

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban BMKG Gelombang angin