RADARTUBAN - Bagi warga ring satu, keberadaan perusahaan di kawasan mereka seharusnya membawa dampak positif yang berkeadilan, bukan sekadar memanfaatkan wilayah tanpa memberi ruang bagi keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal.
Prinsip inilah yang mendorong warga Desa Socorejo, Kecamatan Jenu dan Desa Tlogowaru, Kecamatan Merakurak mendesak manajemen PT Semen Indonesia Logistik (SILOG) Tuban untuk mengevaluasi kembali keberpihakan perusahaan terhadap lingkungan sekitar.
Masyarakat menilai, PT SILOG terus menutup mata terhadap nasib warga yang terdampak operasional.
Kekecewaan tersebut meruncing pada dua poin utama, yakni ketidakjelasan kucuran program Corporate Social Responsibility (CSR) dan tiadanya prioritas bagi warga lokal dalam pengelolaan serta lelang limbah afal perusahaan.
Perwakilan warga Desa Socorejo, Nafiq, menegaskan bahwa tuntutan masyarakat ring satu murni merupakan ikhtiar memperjuangkan hak atas nilai tambah keberadaan industri di daerah mereka.
“Warga hanya menuntut hak. Kami minta CSR jelas dan warga ring satu Desa Socorejo serta Tlogowaru diprioritaskan dalam pengelolaan limbah afal,” tegas Nafiq
Keinginan warga untuk duduk bersama sejatinya telah ditunjukkan lewat surat keberatan resmi dari Pemdes Socorejo dan Tlogowaru guna menunda lelang 19 unit aset nonproduktif perusahaan.
Namun, langkah dialog tersebut mentok setelah PT SILOG memilih berlindung di balik dalih kepatuhan prosedur Good Corporate Governance (GCG) melalui surat balasan bernomor 042/TPA/08.2026.
Sikap kaku perusahaan serta kebuntuan mediasi bersama HRD PT SILOG semakin memicu eskalasi kekecewaan warga setempat.
Merasa diabaikan di tanah sendiri, warga kini mengancam akan membawa tuntutan ini ke level pimpinan yang lebih tinggi dengan melayangkan aksi ke kantor pusat PT SILOG untuk menemui Direktur Operasional di Gresik.
Hingga saat ini, baik manajemen PT SILOG maupun PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) Pabrik Tuban belum memberikan pernyataan resmi terkait gelombang kritik atas komitmen kepedulian lingkungan tersebut. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban