RADARTUBAN - Ledakan populasi hama tikus semakin meresahkan sektor pertanian Kabupaten Tuban. Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, serta Perikanan (DKP2P) setempat memverifikasi bahwa wilayah terdampak kini menembus 14 kecamatan di Tuban terdampak hama tikus sekaligus.
Krisis ini berawal dari serbuan pada ladang jagung di kawasan Gaji dan Wolutengah Kecamatan Kerek Juni lalu. Memasuki dua bulan berikutnya, ganti area pertanian Desa Sawir Kecamatan Tambakboyo ikut terimbas.
Tanaman yang tadinya tumbuh subur kini mengalami kerusakan parah akibat serangan koloni hama yang datang secara masif.
Kendati pengaplikasian racun kimia terus diupayakan, perkembangbiakan hewan ini justru tak kunjung reda hingga mengepung belasan wilayah di Bumi Ronggolawe.
Baca Juga: Ratusan Hektare Jagung dan Padi di Kerek Tuban Diserang Hama Tikus
Hambatan ini membuat para petani kehilangan opsi cepat untuk menyelamatkan komoditas pertanian yang sedang mereka garap. Area Kerek, terutama Desa Gaji dan Wolutengah menjadi titik yang belum juga terbebas dari eksistensi hama ini.
Kerugian ekonomi terus membayangi warga desa yang menggantungkan hidupnya dari hasil bumi.
Para petani jagung terpaksa gigit jari setelah vegetasi yang menginjak fase pembuahan habis dilalap kawanan pemangsa tersebut. Tanaman jagung yang baru berumur sekitar 50 hari dan siap berbuah rusak total.
"Gangguan terjadi sejak dua bulan silam. Langkah mandiri seperti memasang penghalang seng, jala, maupun lembaran plastik sudah dikerjakan, namun barisan tikus tetap sanggup menembus pagar pembatas," ungkap Har, salah seorang penggarap lahan lokal beberapa waktu lalu.
Merespons krisis di 14 kecamatan ini, Kepala DKP2P Tuban Eko Julianto menegaskan, instansinya tengah mengusahakan racun pengerat untuk disalurkan ke kelompok tani (poktan).
Demi menekan bertambahnya populasi hama pengerat tersebut, dinas merekomendasikan penanganan terpadu lewat Gerakan Pengendalian (Gerdal) berskala kawasan. Langkah serentak ini juga dinilai ampuh memutus rantai perkembangbiakan tikus.
"Kami mengimbau semua poktan melakukan gerakan pengendalian berbasis kawasan. Keperluan obatnya dipersiapkan oleh Pemkab. Harapannya, penyebaran hama tikus di 14 kecamatan ini bisa ditekan dan produksi pertanian tetap terjaga,” jelas Eko.
Sementara itu, perwakilan Unit Pelaksana Teknis Daerah Penyuluh Pertanian Lapangan (UPTD PPL) Kecamatan Kerek Sunarto memaparkan, strategi mengatasi hama tikus ini tak sekadar memakai bahan kimia, melainkan juga memaksimalkan predator alami dari seperti burung hantu maupun ular sawah.
Sambil menunggu bantuan dari pemerintah daerah dan provinsi turun ke lapangan, para petani berharap aksi tanggap darurat segera berjalan demi mengamankan sisa lahan pertanian yang ada. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban