Lahan GRR Tuban Kembali Terbakar, Standar Proteksi Kebakaran Jadi Sorotan

Andreyan (An) • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:03 WIB
Kondisi lahan Kilang GRR Tuban di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu menyisakan arang dan asap yang masih mengepul pasca kebakaran, kemarin (21/8). (ANDREYAN/RADAR TUBAN)
Kondisi lahan Kilang GRR Tuban di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu menyisakan arang dan asap yang masih mengepul pasca kebakaran, kemarin (21/8). (ANDREYAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN- Sekitar satu hektare lebih lahan proyek Grass Root Refinery (GRR) di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu kembali terbakar, kemarin (21/8). Kebakaran di kawasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Hampir setiap musim kemarau, si jago merah melahap lahan proyek kilang tersebut. 

Berulangnya kebakaran memunculkan sorotan terhadap sistem pengawasan dan proteksi kebakaran di kawasan proyek yang dikelola PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) tersebut.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran pada Satpol PP dan Damkar Tuban Sutaji mengatakan, lahan proyek GRR dan kawasan di sekitarnya masuk dalam pemetaan daerah rawan kebakaran setiap musim kemarau.

Karena itu, Damkar Tuban telah melakukan sejumlah langkah untuk menekan risiko kebakaran. Salah satunya dengan memberikan pelatihan kepada personel di kawasan lahan proyek Pertamina tersebut.

Baca Juga: Kronologi Kebakaran Nipah Mall Makassar, Api Muncul Jelang Pusat Perbelanjaan Tutup

Sutaji menekankan pentingnya pemenuhan standar proteksi dini kebakaran di kawasan tersebut. Menurut dia, pengelola perlu menyiagakan personel pemadam dan menyediakan armada pemadam yang jumlahnya disesuaikan dengan luas wilayah.

“Personel pemadam di sana (kawasan lahan proyek Kilang GRR, Red) masih kurang, mobil pemadam harusnya ada, jumlahnya menyesuaikan cakupan luas wilayah tersebut. Sepengetahuan saya, dulu pernah ada tapi rusak,” bebernya kepada wartawan.

Selain personel dan armada, Sutaji mendorong penambahan alat pemadam api ringan (APAR) di sejumlah titik. Peralatan tersebut dinilai penting untuk menangani sumber api sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

“Harusnya diperbanyak APAR, agar jika ada sumber api bisa ditekan secara dini,” tegas mantan Camat Bancar itu.

Kebakaran di lahan GRR kemarin diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 11.00. Setelah menerima laporan, personel Damkar Tuban langsung menuju lokasi. Tiga armada damkar milik pemkab, TPPI, dan PLTU yang dikerahkan.

Kebakaran tersebut menambah daftar insiden serupa di kawasan lahan proyek GRR Tuban. Pada 9 September 2023, kebakaran juga terjadi di lokasi tersebut. Saat itu, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 10 hektar.

Terkait penyebab kebakaran kali ini, Sutaji mengatakan belum dapat menyimpulkannya. Saat berita ini ditulis, proses pembasahan masih berlangsung dan penyelidikan penyebab kebakaran dilakukan.

Sutaji mengimbau pengelola kawasan GRR meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Kondisi lahan yang didominasi rumput dan pepohonan kering, ditambah angin kencang memicu api mudah menjalar.

“Kami menekankan agar personel di sana melakukan patroli rutin, sebab wilayahnya cukup luas. Jangan sampai ada yang membakar sampah atau semacamnya, akibatnya bisa fatal,” tegasnya.(an/ds) 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Radar Tuban
Tuban damkar grr kebakaran lahan