RADARTUBAN- Regenerasi perajin batik gedog di Desa Gaji, Kecamatan Kerek masih terjaga. Di tengah berkurangnya jumlah pembatik di sejumlah daerah, aktivitas membatik di desa ini justru tetap hidup. Terbukti, pembatik baru terus bermunculan.
Samiun adalah salah satu perajin yang masih menjaga warisan budaya leluhur tersebut. Belasan tahun lalu, dia hanyalah buruh batik. Kini, dia memiliki rumah batik sendiri bernama Samiun Batik Tulis Mawar Biru. Di rumah batiknya, dia mempekerjakan lima pekerja.
Semua itu dijalani Samiun bukan sekadar untuk mencari penghasilan. Dia ingin batik gedog khas Tuban tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Rumah batik milik Samiun berbeda dengan lainnya. Kalau perajin lain memulai produksi batik tulis dengan njaplak atau menjiplak pola ke kain dengan pensil, dia justru tak menggunakan tahapan tersebut. Karena sudah hafal, Samiun langsung nglowong dengan pengaplikasian malam panas menggunakan canting pada kain putih. Kemampuan ini menunjukkan begitu panjang proses yang digeluti sekaligus ketekunannya pada kerajinan batik.
‘’Sekitar 20 tahun lebih saya menggeluti,’’ ungkapnya. Sementara untuk pengisian ornamen, pewarnaan, hingga pelunturan malam tidak bedanya dengan pembatik umumnya.
Menurut Samiun, pembatik di Desa Gaji dari berbagai kelompok usia. Tidak hanya yang berusia lanjut. Sebagian di antara mereka masih tergolong muda.
“Sekarang pembatik di Desa Gaji banyak. Perajin seperti saya yang membatik, mewarnai, hingga menjual sendiri ada kurang lebih lima tempat. Kalau pembatiknya, cukup banyak,” beber perempuan 40 tahun itu.
Samiun sendiri tidak langsung menjadi perajin mandiri. Dia belajar membatik secara bertahap. Setelah menguasai keterampilan dasar, dia bergabung dengan salah satu rumah batik besar di Kecamatan Kerek.
Pengalaman tersebut menjadi bekal sebelum akhirnya pada 2013 memutuskan membuka rumah batik sendiri. Usahanya terus dikembangkan hingga sekarang.
Ketika pesanan meningkat, Samiun melibatkan pembatik lain untuk membantu menyelesaikan produksi. “Kalau banyak pesanan batik, biasanya ada lima orang yang membantu membatik di sini,” ujar ibu satu anak itu.
Para pembatik tersebut bekerja secara lepas. Upah dihitung berdasarkan kain yang berhasil diselesaikan. Untuk kain berukuran sekitar dua meter, pembatik bisa memperoleh upah Rp 60 ribu.
Skema kerja seperti itu dinilainya cukup membantu, terutama bagi ibu rumah tangga. Mereka bisa mengerjakan batik di sela pekerjaan rumah tangga tanpa harus meninggalkan rumah dalam waktu lama.
“Membatik menjadi pekerjaan sampingan. Bisa menambah pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” beber perempuan lulusan SD itu.
Namun, di balik geliat regenerasi tersebut, Samiun melihat ada bagian dari tradisi batik gedog yang perlahan menghilang. Bukan keterampilan membatiknya, melainkan lelaku spiritual yang dahulu menyertai proses pembuatan batik.
Pada masa lalu, sejumlah pembatik menjalani puasa selama tujuh hari sebelum membuat motif tertentu. Mereka juga merapalkan doa sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan para pendahulu.
Tradisi itu kini hampir sepenuhnya ditinggalkan. “Sekarang sudah tidak ada seperti itu (puasa, Red). Saya juga tidak melakukan puasa. Kalau dulu ibu saya masih melakukan seperti itu,” ujarnya.
Menurut Samiun, pembatik pada masa lalu juga mengenal tradisi menyimpan batu yang dipercaya sebagai jimat. Setiap pembatik disebut memiliki satu batu yang kemudian disimpan di dalam lemari. “Kalau sekarang sepertinya sudah tidak ada,” katanya.
Perubahan zaman membuat aktivitas membatik kini lebih berorientasi pada produksi dan pemenuhan pesanan. Meski demikian, permintaan batik gedog masih cukup tinggi.
Samiun menyebut Yogja menjadi salah satu pasar yang cukup banyak memesan produknya. Pesanan dari luar daerah tersebut membuat aktivitas membatik di rumahnya tetap berjalan.(fud/ds)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Radar Tuban