RADARTUBAN - Ada dua titik di jalur Tuban-Babat yang perlu mendapat perhatian khusus pengemudi kendaraan bermuatan berat.
Keduanya yang hanya berjarak sekitar 5 kilometer (km) itu memiliki karakter medan berbeda.
Kesamaannya, sama-sama menyimpan risiko kendaraan gagal menanjak. Dua lokasi tersebut adalah tanjakan Pakah di Desa Gesing dan tanjakan Kepet di Desa Tunah, keduanya di Kecamatan Semanding.
Berdasarkan data Satlantas Polresta Tuban, rata-rata sekitar delapan kendaraan bermuatan berat yang gagal menanjak di dua lokasi tersebut setiap pekan. Sebagian kendaraan bahkan terguling setelah kehilangan tenaga saat melintasi tanjakan.
Kanit Penegakan Hukum (Gakkum) Satlantas Polresta Tuban Ipda Rizky Dwi Prasetyo mengatakan, dalam sepekan rata-rata terdapat empat hingga lima kendaraan yang gagal menanjak di tanjakan Kepet. Sementara di tanjakan Pakah, jumlahnya berkisar tiga hingga empat kendaraan.
‘’Kedua tanjakan tersebut memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan itu membuat cara pengemudi mengantisipasi medan juga tidak bisa disamakan,’’ ujar dia kepada wartawan Jawa Pos Radar Tuban, Jumat (21/8).
Tanjakan Pakah, misalnya. Jalur ini justru memiliki persoalan pada jarak pandang. Dari arah Semarang, tanjakan tidak selalu terlihat jelas dari kejauhan, terutama ketika malam hari.
Kontur jalan yang menanjak secara perlahan membuat pengemudi kendaraan berat kerap tidak menyadari bahwa kendaraan mulai memasuki medan menanjak. Ancang-ancang yang seharusnya dilakukan sejak awal pun terlambat.
Ketika kendaraan sudah berada di bagian tanjakan, tenaga mulai berkurang. Situasi menjadi semakin sulit apabila kendaraan melaju dalam antrean dan tidak memiliki ruang untuk mengambil momentum.
‘’Bagi pengendara dari arah Semarang, tanjakan pakah sering menipu pandangan. Sementara bagi pengendara dari arah Surabaya, tanjakan kepet menjadi jalur menanjak yang menguji tenaga,’’ ujar Ipda Rizky.
Dia menjelaskan, banyak kasus kendaraan gagal menanjak di Pakah karena pengemudi kurang memiliki ancang-ancang. Kondisi lalu lintas yang beriringan turut mempersempit ruang pengemudi untuk menjaga momentum.
Berbeda dengan Kepet. Menurut Rizky, tanjakan ini memiliki kemiringan yang lebih curam.
Medannya lebih mudah dikenali dari kejauhan, sehingga pengemudi dapat mengetahui bahwa mereka akan menghadapi tanjakan. Meski mudah dikenali bukan berarti bebas risiko.
Pada lokasi ini, kemampuan kendaraan mempertahankan tenaga menjadi persoalan utama. Kendaraan dengan muatan berlebih berisiko kehilangan tenaga ketika memasuki bagian tanjakan.
Baca Juga: Polresta Tuban Pastikan Kejar Pelaku Pengeroyokan Pesilat, Tegaskan Kasus Usut Tuntas
‘’Kalau Kepet, rata-rata kejadian yang terjadi yakni truk yang kelebihan muatan yang akhirnya tak mampu menanjak,’’ kata perwira asal Dander, Bojonegoro itu.
Rizky mengatakan, jika faktor penyebab kendaraan berat gagal menanjak diurutkan, pengemudi menjadi faktor yang paling dominan. Setelah itu muatan kendaraan dan kondisi kepadatan lalu lintas.
Dengan demikian, kondisi medan bukan menjadi faktor utama. ‘’Meski begitu, terdapat persoalan lain yang perlu mendapat perhatian, yakni minimnya penerangan jalan,’’ ujarnya.
Kondisi tersebut terutama di sekitar tanjakan Pakah. Pada malam hari, jarak pandang pengemudi semakin terbatas karena sejumlah ranting pohon menutupi lampu penerangan jalan umum (PJU).
‘’Penerangan minim terutama di Pakah, banyak ranting yang menutupi PJU sehingga membuat kondisi medan tanjakan dari jauh tidak terlihat,’’ ujarnya.
Problem tersebut mendapat pandangan berbeda dari pengemudi kendaraan berat. Sumantri, salah seorang sopir kendaraan berat, menilai faktor pengemudi tidak bisa dijadikan tolok ukur utama setiap kali kendaraan gagal menanjak.
Menurut dia, kondisi jalan dan minimnya rambu peringatan dari jarak yang cukup juga ikut memengaruhi keselamatan kendaraan berat saat melintasi dua tanjakan tersebut.
‘’Pengemudi membutuhkan informasi medan sebelum memasuki tanjakan. Dengan begitu, mereka dapat menentukan kecepatan dan momentum sejak jauh hari,’’ kata dia.
Selain itu, kata Sumantri, kondisi permukaan jalan juga menjadi persoalan. Jalan yang tidak rata dapat memaksa pengemudi mengurangi laju ketika kendaraan seharusnya mempertahankan momentum untuk melewati tanjakan.
Baca Juga: Lagi, Proyek Drainase Jalan Diponegoro Dikeluhkan: Dulu Makan Korban, Kini Muncul Bau Menyengat
‘’Sering kali kendaraan gagal menanjak karena harus menghindari gundukan tambal sulam di medan jalan yang miring, akhirnya membuat laju kendaraan ketika sudah ancang-ancang tidak maksimal,’’ beber pria asal Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel itu.
Sumantri berharap penanganan dua titik rawan tersebut tidak berhenti pada penambahan papan imbauan. Menurut dia, perbaikan kualitas jalan dan penataan kondisi medan perlu menjadi bagian dari solusi.
‘’Semoga bisa ada solusi mengenai dua tanjakan curam itu, agar laju pengendara yang melintas bisa lancar tanpa hambatan,’’ tandasnya. (an/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban