Beban Ekonomi dan Asmara Picu Usia Produktif di Tuban Depresi, 96 Pasien Dirujuk ke RSJ Menur

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 10:15 WIB
Laki-laki di Tuban lebih rentan terkena gangguan jiwa karena sering memendam masalah. (RADAR TUBAN/AI)
Laki-laki di Tuban lebih rentan terkena gangguan jiwa karena sering memendam masalah. (RADAR TUBAN/AI)

RADARTUBAN – Himpitan ekonomi hingga pahitnya persoalan asmara disinyalir menjadi pemicu utama tingginya kasus gangguan jiwa di Kabupaten Tuban. 

Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsos P3A PMD) Tuban mencatat, mayoritas penderita Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang ditangani berada pada kelompok usia produktif, yakni 30 hingga 50 tahun.

Untuk memulihkan para penyandang disabilitas mental tersebut, Dinsos Tuban mengintensifkan rujukan medis secara berkala ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur, Surabaya. 

Terhitung sejak Januari hingga Agustus 2026, akumulasi rujukan yang difasilitasi telah mencapai 96 pasien.

Baca Juga: Sebelum Dijemput Pak Purnomo dan Viral di Medsos, Camat Tambakboyo Tegaskan Sudah Tangani ODGJ Korban Pasung

Kepala Dinsos P3A PMD Kabupaten Tuban, Sugeng Purnomo, mengatakan penanganan dan rujukan medis ini menyasar ODGJ terlantar di jalanan maupun pasien yang masih berada dalam perawatan keluarga.

“Untuk ODGJ yang berbasis keluarga, kami fasilitasi rujukan ke Menur di Surabaya dengan izin keluarga,” ujar Sugeng.

Dia menambahkan, bagi ODGJ terlantar hasil operasi Satpol PP, petugas akan melakukan asesmen awal untuk melacak identitas dan daerah asalnya. 

Jika keberadaan keluarga terdeteksi, dinas akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah asal untuk proses pemulangan.

Sementara itu, Staf Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Rehabilitasi Dinsos P3A PMD Tuban, Ahmad Fauzan merinci, bahwa mayoritas pasien yang dikirim memang berada di rentang usia produktif akibat beban hidup yang tinggi.

"Usianya rata-rata 30 sampai 50 tahun. Latar belakangnya beragam, tetapi yang paling mendominasi adalah persoalan ekonomi dan masalah percintaan," kata Fauzan.

Untuk menangani puluhan pasien tersebut, Dinsos memfasilitasi rujukan secara berkala setidaknya satu kali dalam seminggu dengan kapasitas maksimal tiga orang per perjalanan, menyesuaikan instruksi teknis RSJ Menur.

"Rujukan rutin kami lakukan seminggu sekali, maksimal tiga pasien. Sejak Januari sampai Agustus ini, total ada sekitar 96 pasien yang difasilitasi rujukan," lanjutnya.

Meski demikian, Fauzan mengingatkan bahwa rujukan medis bukan satu-satunya kunci kesembuhan. 

Tantangan terberat justru terjadi pascaperawatan, di mana pasien rentan mengalami kekambuhan jika diabaikan oleh lingkungan sekitar.

"Pulang dari RSJ kadang dibiarkan saja, tidak diajak komunikasi, dan tidak diingatkan minum obat. Support keluarga dan masyarakat sangat penting. Jangan di-judge atau diejek agar proses pemulihan berjalan baik," pungkas Fauzan. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban
Tuban odgj Dinsos P3A PMD rsj menur