Tradisi Sedekah Laut Jadi Simbol Ungkapan Syukur Sekaligus Rawat Budaya Leluhur

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 17:20 WIB
Prosesi larung sesaji dalam tradisi sedekah laut di kelurahan Sidomulyo, Rabu (26/8). (Shafa Dina Hayuning Mentari/ Radar Tuban)
Prosesi larung sesaji dalam tradisi sedekah laut di kelurahan Sidomulyo, Rabu (26/8). (Shafa Dina Hayuning Mentari/ Radar Tuban)

RADARTUBAN – Pelaksanaan tradisi sedekah laut oleh ratusan nelayan dan warga Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban, kembali menyedot perhatian publik saat mereka tumpah ruah di kawasan pesisir setempat. 

Ritual adat yang tahun ini jatuh bertepatan dengan momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81 menjadi ajang nyata masyarakat pesisir dalam nguri-uri budaya warisan leluhur agar tidak punah tergerus zaman.

Sejak sehari sebelumnya, rangkaian acara telah diawali dengan prosesi kirab dan pesta rakyat.

Sedangkan prosesi melarung menjadi puncak acara sekaligus simbol ungkapan rasa syukur yang mendalam atas rezeki yang telah diterima para nelayan dari kemurahan lautan.

Baca Juga: Tradisi Sedekah Laut Masyarakat Pesisir, Hormati Laut sebagai Sumber Rezeki

Ketua Komunitas Peduli Nelayan Nusantara (KOPEN) Ahmad Husnul Abidin menegaskan, bahwa nilai utama dari kegiatan ini terletak pada rasa syukur dan komitmen pelestarian budaya.

"Tujuan kami menggelar kegiatan rutin ini adalah sebagai bagian dari rasa syukur dan uri-uri budaya masyarakat pesisir," ujar Ahmad saat diwawancara, Rabu (26/8).

Bukan sekadar melestarikan budaya, tetap melalui tradisi ini, masyarakat pesisir turut memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para masyarakat pesisir senantiasa diberi kesehatan, keselamatan, keberkahan, dan rezeki yang melimpah.

"Prosesi larung sesaji ini merupakan simbol pemberian kembali sebagian hasil rezeki ke laut sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan manusia terhadap alam," imbuhnya. 

Tradisi sedekah laut ini sendiri biasanya dilaksanakan pada bulan Besar dan Sapar dalam penanggalan Jawa, atau saat Maulud. 

Sedangkan, untuk tahun ini, pelaksanaannya kebetulan bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan RI ke-81. 

Melalui momentum ini, Ahmad juga menitipkan harapan besar bagi masa depan masyarakat pesisir di Bumi Ronggolawe. Pihaknya mendorong adanya sinergi yang lebih erat antara pemerintah dan komunitas nelayan.

"Harapan kami, ada kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat pesisir. Ke depan, kami berharap ada kolaborasi dari seluruh pihak untuk perbaikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir itu sendiri," pungkasnya.

Bagi warga setempat, tradisi ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka sejak lahir.

Salah satunya, Suwandi yang mengungkapkan betapa kuatnya ikatan batin masyarakat terhadap tradisi ini.

"Ini sudah tradisi turun-temurun, bahkan sebelum saya lahir tradisi ini sudah ada. Puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia limpahan rahmat dengan hasil laut ini. Akhirnya masyarakat bisa berkumpul, guyub, dan rukun untuk mengadakan sedekah laut ini," tutur pria 60 tahun ini.

Tradisi Sedekah Laut di Kelurahan Sidomulyo ini membuktikan bahwa di tengah modernisasi, masyarakat pesisir Tuban tetap teguh memegang teguh kearifan lokal.

Penyelenggaraan yang rutin dan meriah menjadi benteng utama agar warisan leluhur ini terus lestari dan diwariskan kepada generasi penerusnya. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban
kelurahan sidomulyo nguri-uri budaya Sedekah Laut nelayan pesisir