RADARTUBAN - Angin kencang dan gelombang tinggi yang menerjang perairan Tuban memaksa sebagian besar nelayan Sidomulyo tambat perahu. Kondisi ini dinilai berbahaya dan mengancam keselamatan nelayan apabila memaksa untuk berlayar.
Ketua Komunitas Peduli Nelayan Nusantara (KOPEN) Tuban Ahmad Husnul Abidin mengungkapkan, bahwa aksi tambat perahu ini sudah berlangsung selama kurun waktu dua pekan terakhir.
Para nelayan memilih tak berspekulasi melawan ganasnya gelombang demi meminimalkan risiko kecelakaan laut.
Baca Juga: BMKG Tuban Ingatkan Gelombang 2,5 Meter di Laut Jawa, Nelayan Diminta Waspada
"Tinggi gelombang yang menyentuh angka 2 meter dinilai terlalu berbahaya bagi keselamatan nyawa, terutama bagi armada perahu tradisional berukuran 4 Gross Tonnage (GT),” tutur Ahmad saat diwawancarai, Rabu (26/8).
Ahmad menegaskan, bahwa kendati tren hasil tangkapan ikan dalam beberapa bulan terakhir sebenarnya cukup menjajikan, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama para nelayan.
Karakter perahu kecil berukuran di bawah 4 GT sangat rentan terbalik jika diterjang gelombang tinggi di atas 2 meter, terlebih saat membawa muatan berat.
"Hasil tangkapan sebetulnya lumayan beberapa bulan kemarin. Tapi kalau cuaca buruk seperti ini, risiko menyangkut jiwa dan keselamatan harus nomor satu. Gelombang 2 meter kami sudah tidak berani melaut,” lanjutnya.
Tiap kali melaut, Ahmad mengatakan, nelayan berperahu kecil setidaknya bisa menampung maksimal 1,5 ton ikan.
Namun, tak jarang beratnya di bawah angka tersebut lantaran khawatir beban akan terlalu berat dan berisiko tinggi bagi stabilitas kapal.
“Perahu 4 GT itu kapasitas maksimalnya 1,5 ton, bahkan itu sudah terlalu berat. Biasanya kalau beban sudah sampai 1 ton saja nelayan agak tidak berani," bebernya.
Untuk memantau kondisi cuaca secara presisi, para nelayan berpatokan pada pembaruan data berkala dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban serta imbauan resmi dari Kesatuan Pegawasan Laut dan Pelayaran (KPLP).
Selama masa libur melaut yang kondisional ini, pesisir Sidomulyo tak lantas sepi dari aktivitas.
Para nelayan memanfaatkan waktu darat untuk merawat serta memperbaiki peralatan tangkap yang rusak, mulai dari perbaikan lambung kapal hingga pembenahan jaring.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga, mayoritas nelayan memutar otak dengan melakoni pekerjaan sampingan.
Sebagian mengandalkan hasil pengolahan ikan pedagang lokal, mengelola budidaya, hingga beralih profesi sementara menjadi pengayuh becak di area perkotaan Tuban.
Langkah fleksibel ini diambil agar kebutuhan harian dapur rumah tangga mereka tetap terpenuhi hingga cuaca perairan utara kembali bersahabat.
"Jadi kalau cuaca buruk, nelayan hanya bisa memperbaiki alat-alat perlengkapan alat tangkap yang ada di darat, sebagian masyarakat kita ada yang jual ikan maupun berbudidaya juga. Jadi mereka masih bisa beraktivitas lain selain melaut juga," pungkas Ahmad. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban