Perpustakaan Konvensional Tetap Penting, Angka Kunjungan Perpusda Tuban Tembus 187 Ribu Orang

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:40 WIB
Salah seorang pembaca di perpustakaan.
Salah seorang pembaca di perpustakaan.

RADARTUBAN – Pesatnya arus digitalisasi dan gempuran media sosial tidak lantas menyurutkan eksistensi perpustakaan fisik yang masih memegang peranan vital dalam membangun sumber daya manusia (SDM) dan memperkuat literasi masyarakat, meski perpustakaan berbasis digital terus diperluas.

Sekalipun Pemerintah Kabupaten Tuban telah memfasilitasi keanggotaan digital melalui aplikasi Tuban Digital Library (TULIB), pemanfaatan ruang baca konvensional terbukti tetap menjadi pilihan utama bagi ribuan warga Tuban.

Baca Juga: Perpusda Tuban Tambah 9.362 Buku Baru, Koleksi Makin Variatif dan Sebar ke Perpustakaan Kecamatan

Berdasarkan data Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Tuban, hingga semester pertama 2026, tingkat kunjungan perpustakaan fisik tercatat telah menembus angka 187.125 kunjungan.

Sementara itu, angka keanggotaan TULIB hingga bulan telah mencapai 2.098 anggota dari total kuota maksimal yang disediakan sebanyak 2.500 per tahun.

Kepala Dispersip Tuban Endro Budi Sulistyo melalui Kepala Bidang Perpustakaan Masykuri menyampaikan, bahwa modernisasi perpustakaan digital disiapkan untuk mengimbangi perkembangan teknologi informasi yang melaju pesat, khususnya bagi generasi Z.

Namun, keberadaan perpustakaan konvensional tetap tidak pernah dikesampingkan dan tidak kalah pentingnya.

"Meskipun sekarang ada perpustakaan digital, perpustakaan konvensional juga tetap penting. Karena mungkin koleksi-koleksi yang tidak ada di perpustakaan elektronik ini kan masih kita simpan dari dulu. Jadi masyarakat yang ingin berkunjung ke perpustakaan itu tidak hanya sekadar membaca, tapi juga mencari informasi-informasi yang lain," ujar Masykuri kepada Jawa Pos Radar Tuban, Kamis (27/8).

Masykuri meyakini, perpustakaan konvensional memiliki keunggulan interaksi sosial dan aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat yang belum sepenuhnya melek IT.

Selain ketersediaan fisik koleksi literatur lama yang tidak ditemui pada format digital, gedung perpustakaan konvensional juga melengkapi perannya dengan menyediakan fasilitas pendukung modern seperti ruang akses internet secara gratis bagi masyarakat luas.

"Di samping menyediakan koleksi buku, kita juga menyediakan layanan internet yang bisa diakses free oleh masyarakat," pungkasnya.

Eksistensi perpustakaan fisik ini pun dinilai menjadi fondasi utama tempat pembelajaran sepanjang hayat. Kehadirannya memastikan akses literasi tetap terbuka inklusif dan berkelanjutan bagi siapa saja tanpa terbatasi oleh jenjang pendidikan formal maupun hambatan penguasaan teknologi. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban
Tuban Perpusda Tuban literasi TULIB perpustakaan