Pemkab Tuban Habiskan Rp 9 Miliar untuk Revitalisasi Drainase, Mampukah Atasi Genangan Saat Hujan?

Ahmad Atho'illah • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:43 WIB
Proyek revitalisasi drainase di Jalan Diponegoro yang diharapkan bisa menyelesaikan problem genangan air setip musim hujan. (ADIB TURMUDZI/RADAR TUBAN)
Proyek revitalisasi drainase di Jalan Diponegoro yang diharapkan bisa menyelesaikan problem genangan air setip musim hujan. (ADIB TURMUDZI/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN – Cara paling muda untuk menguji efektivitas atau tingkat keberhasilan revitalisasi drainase yang dilakukan pemerintah daerah, adalah saat musim penghujan tiba. Ketika genangan air masih muncul di titik yang sama, maka kinerja instansi terkait patut dipertanyakan.

Tahun ini, Pemkab Tuban kembali membongkar dua titik saluran drainase dengan total anggaran mencapai kurang lebih Rp 9 miliar. Yakni, drainase di Jalan RE Martadinata dan Jalan Diponegoro sisi barat.

Dalam proses tender di laman sistem pengadaan secara elektronik (SPSE) Pemkab Tuban, proyek drainase di Jalan RE Martadinata dimenangkan oleh CV Bina Artha Karya dengan hasil negosiasi penawaran Rp 3,59 miliar, atau turun sekitar Rp 75 juta dari nilai HPS Rp 3,66 miliar. Sedangkan paket peningkatan saluran drainase Jalan Diponeroro dimenangkan oleh CV Candra Karya Pratama dengan penawaran Rp 5,6 miliar, atau turun sekitar Rp 123 juta dari nilai HPS Rp 5,8 miliar.

Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, dua proyek saluran di wilayah administratif Kelurahan Karangsari dan Latsari, Kecamatan Tuban itu sudah mulai dikerjakan. Bangunan lama trotoar dibongkar total menggunakan alat berat. Pohon-pohon penghijauan berusia puluhan tahun di sepanjang bahu jalan juga turut ditebang.

Baca Juga: Lagi, Proyek Drainase Jalan Diponegoro Dikeluhkan: Dulu Makan Korban, Kini Muncul Bau Menyengat

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (PUPRPRKP) Tuban Aizah Tis Inawati mengatakan, pembongkaran total drainase dibutuhkan karena ada dimensi saluran yang diperbesar. 

‘’Saluran drainase yang baru (setelah direvitalisasi, red) dimensinya lebih besar,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Aiz menegaskan, meski dalam proyek revitalisasi saluran menggunankan u-ditch atau beton cetakan, namun dia memastikan bahwa konsepnya tidak sekadar ditumpuk, sehingga kondisi gorong-gorong malah semakin sempit.

‘’Jadi, bangunan lama dibongkar, lalu menyesuaikan ukuran u-ditch yang lebih lebar. Makanya dimensinya lebih besar,’’ katanya sekaligus menepis anggapan masyarakat terkait kondisi gorong-gorong yang semakin sempit akibat diganti menggunakan cetakan beton. ‘’Kalaupun ada yang sama (tidak ada pelebaran dimensi, red), kita tetap melevelkan arah aliran air,’’ tambahnya.

Praktis, dengan tujuan pelebaran drainase tersebut, maka volume atau daya tampung saluran lebih besar. Idealnya, dengan daya tampung yang lebih lebar tersebut, maka tidak ada lagi sisa air hujan yang menggenangi jalan. Namun, jawaban atas efektivitas revitalisasi drainase yang menghabiskan anggaran miliar ini baru bisa dibuktikan saat musim penghujan. Tapi sebaliknya, jika kondisi genangan masih sama, maka konsep menyelesaikan persoalan genangan dengan membongkar total trotoar ini patut diperyanyakan. (tok)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Radar Tuban
Pemkab Tuban Revitalisasi drainase