RADARTUBAN- Pesatnya digitalisasi dan penggunaan media sosial tidak menggeser peran perpustakaan fisik di Kabupaten Tuban. Di tengah perluasan layanan perpustakaan digital, ruang baca konvensional masih menjadi pilihan masyarakat.
Berdasarkan data Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Tuban, jumlah kunjungan ke perpustakaan fisik hingga semester pertama 2026 mencapai 187.125 kunjungan.
Angka tersebut menunjukkan perpustakaan konvensional masih memiliki tempat di tengah perubahan pola masyarakat dalam mengakses informasi. Pemkab Tuban juga telah menyediakan layanan perpustakaan digital melalui aplikasi Tuban Digital Library (TULIB). Hingga bulan ini, jumlah anggota TULIB mencapai 2.098 orang dari kuota maksimal 2.500 anggota per tahun.
Baca Juga: Minat Baca Masih Tantangan, Keanggotaan Tulib Tuban Belum Penuhi Target
Kepala Dispersip Tuban Endro Budi Sulistyo mengatakan, pengembangan perpustakaan digital dilakukan untuk menyesuaikan layanan dengan perkembangan teknologi informasi, terutama bagi generasi Z. Namun, perpustakaan konvensional tetap dipertahankan karena memiliki koleksi yang belum seluruhnya tersedia dalam format digital.
"Meskipun sekarang ada perpustakaan digital, perpustakaan konvensional juga tidak kalah pentingnya. Karena mungkin koleksi-koleksi yang tidak ada di perpustakaan elektronik ini kan masih kita simpan dari dulu. Jadi masyarakat yang ingin berkunjung ke perpustakaan itu tidak hanya sekadar membaca, tapi juga mencari informasi-informasi yang lain," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Menurut Endro, perpustakaan fisik juga memiliki keunggulan dari sisi interaksi sosial dan aksesibilitas. Layanan tersebut penting bagi masyarakat yang belum terbiasa memanfaatkan teknologi informasi.
Selain koleksi buku, perpustakaan konvensional di Tuban juga menyediakan fasilitas pendukung, termasuk akses internet gratis bagi masyarakat. "Di samping menyediakan koleksi buku, kita juga menyediakan layanan internet yang bisa diakses free oleh masyarakat," ujarnya.
Keberadaan perpustakaan fisik, kata dia, sekaligus menjadi bagian dari upaya menyediakan akses pembelajaran sepanjang hayat. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa dibatasi jenjang pendidikan formal maupun kemampuan menggunakan teknologi. (saf/ds)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Radar Tuban