Dulu Disebut Pohon Harapan, Kalpataru Jadi Mahakarya Jati Abad Ke-15 Saksi Akulturasi Budaya

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 07:55 WIB
Salah seorang pengunjung Museum Kambang Putih tengah mengamati Kalpataru. (Shafa Dina Hayuning Mentari/ Radar Tuban)
Salah seorang pengunjung Museum Kambang Putih tengah mengamati Kalpataru. (Shafa Dina Hayuning Mentari/ Radar Tuban)

RADARTUBAN - Berdiri megah di balik etalase kaca tebal pada Ruang Etnografi Museum Kambang Putih Tuban, artefak Kalpataru menjulang sebagai salah satu mahakarya bersejarah yang dibanggakan oleh masyarakat Kabupaten Tuban. 

Warisan berupa ukiran kayu jati kuno ini ditengarai telah tercipta sejak abad ke-15 masehi. 

Kehadirannya tidak sebatas menjadi benda peninggalan masa lampau, melainkan hadir sebagai tonggak dan representasi penting dari kemasyhuran peradaban Islam di Nusantara sewaktu era syiar keagamaan Sunan Bonang berlangsung.

Masyarakat daerah Tuban menempatkan Kalpataru pada posisi yang amat istimewa karena memuat keterikatan sejarah serta makna spiritual yang begitu dalam. 

Baca Juga: Diyakini Terkait Asal-usul Nama Tuban, Inilah Artefak Batu Yoni di Museum Kambang Putih

Benda bersejarah ini secara presisi mengabadikan fase perkembangan seni budaya Jawa-Islam pada kurun waktu ajaran Islam sedang mengakar kuat di kawasan pesisir utara Pulau Jawa. 

Setiap lengkungan dan detail pahatan pada permukaan kayunya dibuat dengan tingkat kerumitan tinggi, menyimpan ajaran filosofis mengenai makna kehidupan, lambang kemakmuran dan kesuburan, hingga visualisasi keselarasan ikatan antara umat manusia dengan Sang Pencipta.

Staf Museum Kambang Putih Deni Anto menjelaskan, bahwa penelusuran rekam jejak benda berharga ini berawal dari area Pendopo Rante yang bertempat persis di sisi barat kompleks Makam Sunan Bonang.

Sebelum menginjak dekade 1980-an, warga setempat beserta para peziarah yang melintas kerap menganggap Kalpataru sebagai objek yang diselimuti oleh daya mistis dan spiritual yang kuat. 

Imbas dari pandangan tersebut, kawasan di sekitar tempat berdirinya artefak ini kerap dimanfaatkan sebagai arena untuk memanjatkan beragam permohonan dan impian pribadi.

Kegiatan ritual di tempat tersebut ditandai oleh banyaknya pengunjung yang membawa aneka macam sajen, menyalakan wewangian dupa, serta melempar dan menabur uang logam di sekeliling area batang kayu jati tersebut.

Atas dasar kebiasaan pemanjatan doa serta harapan di lokasi itulah, artefak ini juga dikenal luas dengan sebutan 'pohon harapan'.

Untuk mencegah kerusakan fisik yang mengancam keutuhan benda sejarah ini, sekaligus menghentikan aktivitas ritual pemujaan yang bertentangan dengan kaidah keagamaan, otoritas pemerintah setempat mengambil tindakan penyelamatan secara tegas.

Tepat pada tahun 1984, Kalpataru dipindahkan secara resmi dari tempat asalnya menuju Museum Kambang Putih agar proses perawatan, konservasi, serta penelitian ilmiah dapat dilakukan secara maksimal.

Apabila diteliti secara lebih mendalam, struktur Kalpataru menampilkan bentukan yang sangat khas berupa empat dahan utama yang dipenuhi seni ukir berkualitas tinggi. 

Setiap pahatan pada kayu tersebut menggambarkan betapa kuatnya semangat keterbukaan, tenggang rasa, serta perpaduan lintas budaya yang terjalin pada masa itu.

“Motif ukirannya memadukan simbol rumah ibadah dari empat ajaran keagamaan yang berbeda, yaitu ajaran Islam, Hindu, Buddha, hingga Tri Dharma,” lanjutnya.

Di samping memuat ragam hias bertema keagamaan, Kalpataru juga menyimpan rekam jejak kebudayaan dari era animisme purba. 

Bukti nyata dari pengaruh zaman kepercayaan leluhur tersebut terpapar pada sosok arca dengan posisi berjongkok. 

Pada era pra-Islam, figur patung seperti ini biasa dipakai sebagai sarana perantara untuk menghormati dan memuja roh-roh nenek moyang.

“Keberagaman corak pada Kalpataru semakin lengkap dengan ukiran bermotif lanskap alam, seperti dedaunan dan pepohonan yang rindang, hingga figur satwa mitologi berupa singa dan naga,” tandasnya.

Penyatuan bermacam corak dan seni dekoratif ke dalam satu media kayu jati kuno ini menjadi bukti nyata bahwa Kalpataru merupakan representasi otentik dari perjumpaan aneka budaya, dimensi keagamaan, serta tingginya pencapaian seni pahat dalam alur sejarah peradaban Tuban. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban
Tuban islam Museum Kambang Putih Sunan Bonang kalpataru