HIDUP DARI LAUT: Barisan nelayan dan keluarganya menggambarkan sosok pekerja keras yang menghadapi laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara istri nelayan menjadi gambaran keteguhan keluarga di daratan.
RADARTUBAN - Tradisi Sedekah Laut Karangsari tidak hanya berbicara tentang laut. Di balik prosesi larung sesaji, doa bersama, dan kebersamaan warga pesisir, terdapat pesan tentang rasa syukur, keselamatan, serta hubungan manusia dengan alam.
Pesan itu diangkat SMK Abdi Negara Tuban dalam Tuban Spekta Night Carnival 2026, Sabtu (29/8) malam. Mengusung tema “Gemah Ripah Loh Jinawi, Merajut Harmoni Darat dan Laut”, sekolah tersebut menampilkan cerita tentang tradisi Sedekah Laut Karangsari sebagai warisan budaya masyarakat pesisir Tuban.
Karnaval itu menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam format “Beyond the Ages”, SMK Abdi Negara Tuban ingin menyampaikan semangat untuk terus bergerak melampaui zaman, beradaptasi dengan perubahan, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan generasi sebelumnya.
Baca Juga: Radar Tuban Mengajar: Ajari Siswa SMK Abdi Negara Menulis Berita
Bagi masyarakat Karangsari, laut memiliki arti lebih dari sekadar sumber penghidupan. Laut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari laut, para nelayan memperoleh rezeki. Karena itu, laut juga dipandang sebagai ruang yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya.
Tradisi Sedekah Laut kemudian menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur masyarakat atas rezeki dan keselamatan yang mereka terima.
Dalam gambaran yang ditampilkan SMK Abdi Negara Tuban, rangkaian tradisi dimulai dengan doa bersama. Warga memohon keselamatan bagi nelayan, kerukunan masyarakat, serta keberkahan yang terus mengalir dari laut.
Sesaji berupa tumpeng, hasil bumi, dan hasil laut kemudian dibawa menuju kapal nelayan yang telah dihias. Persembahan itu selanjutnya dilarungkan ke tengah laut sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat alam.
Kapal perlahan meninggalkan pantai. Warga mengiringinya dengan doa dan lambaian tangan. Setelah prosesi selesai, kapal kembali ke daratan dan disambut kegembiraan warga.
Musik rakyat, keceriaan anak-anak, serta kebersamaan warga menjadi bagian dari suasana setelah prosesi. Tradisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat pesisir dibangun dari kerja keras, kebersamaan, dan rasa syukur.
Pesan itulah yang diterjemahkan siswa SMK Abdi Negara Tuban ke dalam sejumlah barisan karnaval.
Barisan pembawa sesaji menjadi pembuka. Sesaji menggambarkan rasa syukur dan penghormatan masyarakat pesisir kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain sebagai simbol persembahan, sesaji juga dimaknai sebagai doa untuk keselamatan dan keberkahan.
Baca Juga: Diawali Doa untuk Korban Bencana, Ribuan Masyarakat Larut dalam Kemeriahan TSNC 2026
Berikutnya hadir barisan maskot karnaval. Kostum yang unik dan atraktif menggambarkan kegembiraan masyarakat dalam merayakan tradisi. Kehadiran maskot juga menjadi simbol semangat kebersamaan dalam menjaga budaya pesisir.
Barisan replika kapal dan sesepuh nelayan kemudian membawa pesan yang berbeda. Kapal menjadi simbol kehidupan masyarakat yang menggantungkan sebagian penghidupannya pada laut. Sementara sesepuh nelayan menggambarkan pewaris pengetahuan dan tradisi yang memahami sejarah serta makna Sedekah Laut.
Di belakangnya terdapat barisan nelayan dan keluarganya. Nelayan menggambarkan sosok pekerja keras yang menghadapi laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara istri nelayan menjadi gambaran keteguhan keluarga di daratan—mendukung suami, menjaga keluarga, dan menjadi sumber kekuatan.
Harmoni kehidupan darat dan laut semakin diperkuat melalui penampilan penari ombak. Para penari membawa kain biru panjang yang bergerak menyerupai gelombang laut. Gerakan yang dinamis menggambarkan kekuatan, keindahan, sekaligus perubahan laut yang tidak pernah berhenti.
Melalui pertunjukan tersebut, SMK Abdi Negara Tuban tidak sekadar menampilkan kemeriahan karnaval. Mereka membawa pesan bahwa kemajuan tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.
Tema “Gemah Ripah Loh Jinawi” menjadi benang merah penampilan. Kemakmuran, dalam pandangan yang ditawarkan melalui Sedekah Laut Karangsari, tidak hanya bergantung pada kekayaan alam. Kemakmuran juga membutuhkan keseimbangan dalam mengelola daratan dan lautan.
SMK Abdi Negara Tuban, di bawah kepemimpinan Uswatun Hasanah, menjadikan panggung karnaval sebagai ruang bagi peserta didiknya untuk mengenalkan kembali nilai tersebut kepada masyarakat.
Sekolah yang berada di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Sidorejo, Tuban, itu memiliki lima program keahlian, yakni Akuntansi, Bisnis Digital, Perhotelan, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), serta Layanan Penunjang Kefarmasian Klinis dan Komunitas.
Program Layanan Penunjang Kefarmasian Klinis dan Komunitas menjadi salah satu keunggulan sekolah tersebut karena disebut sebagai satu-satunya program keahlian sejenis di Kabupaten Tuban.
Di tengah pendidikan yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi, para siswa tetap diajak mengenali budaya di lingkungan mereka.
Melalui Sedekah Laut Karangsari, mereka menyampaikan pesan sederhana: laut adalah sumber kehidupan, tradisi adalah identitas, dan kemakmuran hanya dapat tumbuh ketika manusia mampu menjaga harmoni dengan alam.
Dari daratan hingga lautan, semangat itu dirangkum dalam satu harapan: gemah ripah loh jinawi, negeri yang subur, makmur, dan penuh keberkahan.(*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban