SMAN 5 TUBAN: Sang Juara Bertahan TSNC Mengusung Jaranan, Sandi Prajurit dari Tanah Tuban

Yudha Satria Aditama • Dipublikasikan Senin, 31 Agustus 2026 | 12:06 WIB
Kontingen SMAN 5 Tuban tampil memukau dalam Tuban Specta Night Carnival (TSNC) 2026, Sabtu (29/8) malam. (Andreyan/Radar Tuban)
Kontingen SMAN 5 Tuban tampil memukau dalam Tuban Specta Night Carnival (TSNC) 2026, Sabtu (29/8) malam. (Andreyan/Radar Tuban)

RADARTUBAN - Penampilan SMAN 5 Tuban sukses mencuri perhatian dan menjadi salah satu magnet penonton dalam pagelaran Tuban Specta Night Carnival 2026, Sabtu (29/8) malam.

Mengusung tema “Jaranan: Sandi Prajurit dari Tanah Tuban”, kontingen juara TSNC 2024 - 2025 ini menyuguhkan pertunjukan yang tidak sekadar menampilkan kemeriahan seni tradisional. Mereka mengemas kisah jaranan dengan sentuhan teatrikal untuk mengangkat cerita tentang strategi prajurit Tuban dalam menghadapi ancaman musuh.

Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari masyarakat yang memadati sepanjang jalur karnaval. Perpaduan kostum, karakter, gerakan tari, serta alur cerita membuat penampilan SMAN 5 Tuban mampu menarik perhatian penonton.

Baca Juga: Health Evolution, Cara Dinkes Tuban Gambarkan Masa Depan Pelayanan Kesehatan

Kepala SMAN 5 Tuban H. Abdul Aziz, S.Pd mengatakan, tema yang diusung dalam karnaval tahun ini berangkat dari upaya memperkenalkan kembali kesenian jaranan Tuban melalui sebuah cerita yang menarik dan mudah dipahami masyarakat.

Dalam cerita yang ditampilkan, dikisahkan sebuah kerajaan di wilayah yang kini dikenal sebagai Tuban pada zaman dahulu.

Mengusung tema Jaranan: Sandi Prajurit dari Tanah Tuban, sang juara bertahan TSNC 2024–2025 kembali mencuri perhatian penonton.
Mengusung tema Jaranan: Sandi Prajurit dari Tanah Tuban, sang juara bertahan TSNC 2024–2025 kembali mencuri perhatian penonton.

Kerajaan tersebut digambarkan makmur dan tenteram, hingga muncul ancaman dari kelompok asing yang berusaha mengintai kekuatan pertahanannya.

Di tengah situasi tersebut, muncul sosok Raden Mahesa Turangga, panglima kerajaan yang dikenal tangguh, cerdas, dan piawai menyusun strategi.

Untuk menghadapi ancaman tersebut, Raden Mahesa Turangga memiliki gagasan untuk menyamarkan sejumlah prajurit kerajaan sebagai penari rakyat. Mereka membawa kuda-kudaan dari anyaman bambu dan berlatih sebuah pertunjukan jaranan.

“Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan. Setiap gerakan dalam tarian digunakan sebagai sandi untuk menyampaikan pesan untuk masyarakat,” tegas dia.

Gerakan maju menjadi tanda bahwa kondisi aman, sedangkan gerakan mundur menjadi pertanda bahaya.

Mengusung tema Jaranan: Sandi Prajurit dari Tanah Tuban, sang juara bertahan TSNC 2024–2025 kembali mencuri perhatian penonton. (Andreyan/Radar Tuban)
Mengusung tema Jaranan: Sandi Prajurit dari Tanah Tuban, sang juara bertahan TSNC 2024–2025 kembali mencuri perhatian penonton. (Andreyan/Radar Tuban)

Hentakan kaki menjadi isyarat agar pasukan bersiap. Sementara perubahan arah dan formasi digunakan sebagai petunjuk mengenai posisi musuh.

Cerita semakin hidup dengan kehadiran sejumlah karakter, seperti Gendruwon yang menggambarkan sosok kuat dan pemberani. Gerakannya menjadi simbol keberanian prajurit dalam menghadapi bahaya.

Kemudian ada Tak-takan, karakter yang bergerak lincah dan cepat. Sosok tersebut menggambarkan ketangkasan prajurit dalam mengamati keadaan sekaligus menyampaikan pesan.

Karakter lainnya adalah Kucingan yang ditampilkan dengan gerakan gesit, ringan, dan penuh kewaspadaan. Sosok tersebut menjadi simbol kecerdikan prajurit dalam membaca situasi di sekitarnya.

Baca Juga: Diawali Doa untuk Korban Bencana, Ribuan Masyarakat Larut dalam Kemeriahan TSNC 2026

Sementara para penari jaranan menjadi representasi prajurit yang tengah menyamar. Dengan membawa kuda kepang dan bergerak mengikuti irama, mereka terlihat seperti sedang mempertunjukkan kesenian rakyat.

“Setiap gerakan yang dilakukan memiliki makna bagi masyarakat yang memahami seni dan budaya leluhur Tuban,” ungkap dia.

Melalui strategi tersebut, pesan mengenai keberadaan dan pergerakan musuh dapat disampaikan tanpa diketahui pihak lawan. Informasi itu kemudian menjadi bekal bagi pasukan untuk menyusun pertahanan dan menjaga wilayah kerajaan.

Menurut cerita yang diangkat SMAN 5 Tuban, pertunjukan para prajurit tersebut kemudian semakin dikenal masyarakat. Gerakan dan tradisinya diwariskan dari generasi ke generasi hingga berkembang menjadi kesenian jaranan Tuban.

Konsep tersebut membuat penampilan SMAN 5 Tuban tidak hanya menawarkan tontonan, tetapi juga membawa pesan mengenai sejarah, keberanian, kecerdikan, serta upaya menjaga warisan budaya daerah.

Kemasan cerita yang dipadukan dengan aksi para penampil membuat perhatian penonton sepanjang jalur Tuban Specta Night Carnival 2026 tertuju pada kontingen SMAN 5 Tuban.

Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi SMAN 5 Tuban untuk menunjukkan bahwa generasi muda dapat mengambil peran dalam merawat sekaligus menghidupkan kesenian tradisional melalui kreativitas yang relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui “Jaranan: Sandi Prajurit dari Tanah Tuban”, SMAN 5 Tuban tidak hanya tampil untuk memeriahkan karnaval, tetapi juga membawa pesan bahwa kesenian tradisional memiliki cerita dan nilai budaya yang layak terus dikenalkan kepada generasi berikutnya. (yud)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
jaranan nusantara SMAN 5 Tuban TSNC