RADARTUBAN - Melimpahnya produksi garam saat musim kemarau belum sepenuhnya menjadi berkah bagi petani garam di Kabupaten Tuban.
Produksi yang meningkat justru diikuti penurunan harga jual akibat permintaan pasar yang terbatas.
Kondisi itu dirasakan petani garam di Desa Leran Wetan, Kecamatan Palang.
Hampir setiap pekan, petani dapat memanen garam hingga berton-ton. Namun, hasil panen yang melimpah tidak sebanding dengan harga jual yang mereka terima.
Purwanto, salah seorang petani garam di Desa Leran Wetan, mengatakan, harga garam di tingkat petani saat ini hanya berkisar Rp 800-Rp 900 per kilogram (kg).
Dari lahan seluas 2 hektare yang digarapnya, dia dapat menghasilkan sekitar 5-6 ton garam dalam sekali panen.
“Kalau dikalikan memang yang petani dapatkan cukup lumayan, tetapi itu masih pendapatan kotor. Belum dipotong biaya operasional dan tenaga angkut ketika panen,” ujar Purwanto.
Menurut dia, persoalan petani garam tidak hanya terletak pada rendahnya harga jual. Permintaan pasar yang mulai menurun juga membuat penyerapan hasil panen tidak maksimal. Sebagian garam akhirnya disimpan oleh tengkulak di gudang.
“Stok di gudang tidak bisa didiamkan lama. Sementara di pasaran, garam Tuban juga harus bersaing dengan garam dari daerah lain,” katanya.
Ketua Paguyuban Petani Garam Leran Wetan Budianto mengatakan, produksi garam biasanya meningkat pada September hingga November.
Pada periode tersebut, produktivitas lahan dapat mencapai rata-rata 8-9 ton garam per hektare.
Menurut Budianto, persoalan utama yang dihadapi petani adalah terbatasnya jangkauan pemasaran garam lokal Tuban. Kondisi itu membuat pasokan garam di pasar lokal melimpah ketika produksi meningkat.
“Jika jaringan penjualan garam lokal Tuban ke luar daerah cukup luas atau stok garam nasional bisa menembus pasar mancanegara, mungkin setiap musim kemarau harganya tidak terlalu merosot,” ujarnya.
Baca Juga: Salina Turda: Tambang Garam 2.000 Tahun di Rumania yang Disulap Jadi Taman Hiburan Bawah Tanah
Fluktuasi harga garam juga terjadi ketika musim berganti. Harga garam yang pada musim kemarau berada di kisaran Rp 800 per kg dapat meningkat hingga sekitar Rp 1.800 per kg pada musim penghujan.
Namun, peningkatan harga tersebut diikuti penurunan produktivitas. Pada musim penghujan, petani rata-rata baru dapat memanen garam setelah sekitar 15 hari, itu pun bergantung pada kondisi cuaca. Setiap panen, produksi rata-rata hanya sekitar 3 ton.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan petani garam bukan semata-mata soal produksi.
Ketika produksi melimpah, keterbatasan pasar justru menekan harga.
Sebaliknya, ketika pasokan berkurang pada musim penghujan, harga meningkat meski produktivitas turun. (an/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban