Tuban Dua Bulan Tanpa Hujan, El Nino Sangat Kuat Mengintai hingga 2027

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 13:41 WIB
Ilustrasi kekeringan musim kemarau. (jawapos.com)
Ilustrasi kekeringan musim kemarau. (jawapos.com)

RADARTUBANAncaman kemarau panjang di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Tuban, diperkirakan berlangsung lebih lama setelah BMKG memprakirakan fenomena El Nino intensitas sangat kuat bakal bertahan hingga awal tahun 2027.

Kepala Stasiun BMKG Tuban Muhammad Nur mengungkapkan, berdasarkan pemantauan analisis El Nino-Southern Oscillation (ENSO), bahwa anomali suhu permukaan laut pada periode Juni hingga Agustus adalah 2,20. 

Baca Juga: BMKG Tuban Ingatkan Gelombang 2,5 Meter di Laut Jawa, Nelayan Diminta Waspada

"Anomali suhu permukaan laut pada periode tersebut menunjukkan adanya El Nino dengan intensitas sangat kuat. Kami memprediksi kondisi ini akan bertahan hingga awal tahun 2027," papar Nur.

Sinyal anomali iklim global tersebut di Bumi Wali tampak mulai mengkhawatirkan akibat pasokan air hujan yang terhenti total.

"Di seluruh wilayah Tuban, lebih dari dua bulan sudah tidak ada hujan," bebernya.

Ancaman Gagal Panen dan Krisis Air Bersih

Dampak paling nyata langsung memukul sektor pertanian. Minimnya pasokan air membuat jadwal bercocok tanam berantakan, awal musim tanam terpaksa mundur, yang otomatis menggeser jadwal panen raya. Kondisi ini membayangi potensi anjloknya hasil produksi pangan warga.

Selain di sawah, krisis air bersih mulai merembet ke pemukiman di beberapa wilayah Tuban. "Biasanya kawasan Grabagan yang lebih dahulu mengalami kekeringan," ujar mantan kepala Stasiun Meteorologi Aek Godang Sumatera Utara tersebut.

Selain urusan air, vegetasi semak dan hutan yang meranggas ekstrem turut mengerek potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Percikan api sekecil apa pun di area terbuka bakal sangat mudah menyambar ranting dan daun kering.

Bonus Ikan Dibayangi Gelombang Tinggi

Tak cuma di daratan, dampak anomali iklim juga merembet ke kawasan pesisir. Fenomena El Nino sejatinya membawa angin segar bagi para nelayan karena berpotensi mendongkrak populasi ikan di perairan Laut Jawa.

Namun, melimpahnya potensi tangkapan itu dibayangi cuaca ekstrem yang mengancam keselamatan.

"Bahayanya, kondisi angin di perairan Laut Jawa cukup kencang. Bahkan dalam beberapa hari ke depan, gelombang laut diprakirakan bisa mencapai 2 meter," imbau Nur agar nelayan tidak nekat melaut saat cuaca buruk.

Laporan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur makin mempertegas minimnya potensi guyuran air dari langit. 

Prakiraan curah hujan deterministik periode September hingga dasarian I Oktober tercatat berada di tingkat yang sangat rendah, yakni hanya berkisar 0–10 milimeter per dasarian.

"Jadi diprakirakan peluang terjadinya hujan di musim kemarau sangat kecil," tuturnya.

Mengenai kapan titik balik kedatangan musim penghujan, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap bersabar menanti rilis data meteorologi lanjutan. 

"Untuk prakiraan musim hujan belum ada pengumuman resmi, karena saat ini masih dalam fase puncak musim kemarau," pungkas pejabat asal Magelang ini. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban
Tuban kekeringan BMKG musim kemarau EL Nino