Tak Sekadar Manis, Blewah Banaran Jadi Sumber Cuan Petani Kala Kemarau

M. Mahfudz Muntaha • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 13:18 WIB
Salah satu pembeli memilih blewah di tepi jalan Desa Sambungrejo, Kecamatan Merakurak. (M. MAHFUDZ MUNTAHA/RADAR TUBAN)
Salah satu pembeli memilih blewah di tepi jalan Desa Sambungrejo, Kecamatan Merakurak. (M. MAHFUDZ MUNTAHA/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Pemandangan tidak biasa terlihat di ruas jalan yang menghubungkan Desa Sembungrejo dan Desa Sugihan, Kecamatan Merakurak.

Sejumlah gubuk kecil berdiri di tepi jalan. Di sana, petani menjajakan buah blewah hasil panen dari lahan di sekitar Desa Banaran.

Sejak pagi, lapak-lapak sederhana itu ramai didatangi pembeli. Kendaraan silih berganti berhenti di depan gubuk untuk membeli blewah banaran yang mulai memasuki musim panen.

Baca Juga: SBI Resmikan Sekolah Sepak Bola Dynamix, Rumah Kreatif dan Panen Blewah

Buah yang identik dengan musim kemarau tersebut banyak diburu karena rasanya manis dan menyegarkan.

Khamim, salah satu pemilik lahan blewah  mengatakan, pembeli datang dari berbagai wilayah Tuban. Sebagian membeli untuk konsumsi sendiri.

Namun, tidak sedikit yang membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali.

‘’Yang beli itu tidak hanya satu dua kilo, ada yang kuintalan dan biasanya untuk dijual lagi,’’ ujarnya.

Menurut Khamim, pembeli yang membeli dalam jumlah besar biasanya datang menggunakan kendaraan pikap.

Mereka umumnya sudah memesan terlebih dahulu. 

Sementara pembeli yang datang tanpa pesanan hanya mendapatkan buah sesuai stok yang tersedia.

‘’Kalau beli banyak itu biasanya sebelum ke sini sudah pesan, tapi yang tiba-tiba datang itu ya dikasih seadanya,’’ imbuhnya.

Harga blewah yang dijual petani bervariasi, rata-rata Rp 10.000 hingga Rp 14.000 per kilogram (kg). Perbedaan harga bergantung pada jenis blewah.

‘’K alau beli di sini pasti saya tambah, jadi biasanya dapatnya bisa satu kilogram lebih,’’ ungkapnya. 

Ketua Kelompok Tani Blewah Banaran, M. Syaiful Anam mengatakan, panen blewah di wilayahnya berlangsung sejak sekitar satu setengah bulan terakhir. 

Baca Juga: Lahan Diterjang Banjir Luapan Bengawan Solo, Petani Melon dan Blewah Rugi hingga Rp 50 M

Dia mengungkapkan, sebagian petani menjual hasil panennya kepada tengkulak. Selebihnya, menjual langsung kepada konsumen dengan membuka lapak di pinggir jalan.

Menjual langsung, dinilainya memberikan keuntungan lebih besar Syaiful memerkirakan panen blewah berlangsung hingga Oktober.

Menurut dia, tanaman blewah dapat menghasilkan buah selama lebih dari satu bulan, sehingga petani dapat memanennya hampir setiap hari.

Kondisi tersebut berbeda dengan tanaman melon yang umumnya dipanen sekali dalam satu periode tanam.

‘’Di lahan saya yang luasnya paling sedikit saja sehari bisa panen ampai dua kuintal, belum lagi petani lain yang memiliki lahan yang lebih luas,’’ imbuhnya. 

Di Desa Banaran, sekitar 50 hektare lahan ditanami blewah. Lahan tersebut dikelola sekitar 60 petani.

Waktu tanam tidak dilakukan secara serentak karena bergantung pada waktu panen padi dan kesiapan lahan masing-masing petani.

Sebagian petani langsung mengolah lahan setelah panen padi untuk ditanami blewah. Sebagian lainnya memilih menunda. Karena itu, waktu panen tidak bersamaan. Petani yang baru menanam pada Juli, misalnya, baru mulai memanen pada Agustus.

Selain permintaan pasar yang cukup tinggi, blewah diminati petani karena biaya produksinya relatif rendah dengan potensi keuntungan yang cukup besar.

Syaiful mencontohkan lahan seluas 100 meter persegi membutuhkan biaya produksi sekitar Rp 1 juta.

Dari lahan tersebut, nilai penjualan hasil panen dapat mencapai Rp 7 juta jika dijual kepada tengkulak. ‘’Kalau dijual sendiri bisa lebih,’’ bebernya.

Ada hal menarik dalam budidaya blewah di Banaran. Mayoritas tanaman blewah berada di sisi timur jalan. Sementara lahan di sisi barat jalan relatif sedikit digunakan untuk tanaman tersebut.

Menurut Syaiful, kondisi itu berkaitan dengan pengalaman petani yang pernah mencoba menanam blewah di sisi barat jalan.

Hasilnya tidak semanis blewah yang ditanam di sisi timur. ‘’Tidak tahu kenapa begitu. Makanya petani di timur jalan saja yang tanam blewah,’’ pungkasnya.(fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
banaran Tuban blewah Merakurak