Kekeringan di Tuban Merembet ke Sembilan Kecamatan, 18 Desa Alami Krisis Air Bersih

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 14:51 WIB
Ilustrasi kekeringan ekstream. (pinterest.com)
Ilustrasi kekeringan ekstream. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Bencana kekeringan di Kabupaten Tuban terus menunjukkan tren eskalasi. Terbaru, terjadi penambahan satu kecamatan terdampak yang membuat jangkuan kekeringan kini merebak ke sembilan kecamatan dengan total mencapai 18 desa.

Penambahan titik wilayah terdampak ini memicu lonjakan jumlah warga yang terpaksa menggantungkan kebutuhan harian pada kiriman tangki air.

Jika sebelumnya krisis air berpusat di 15 desa dari 8 kecamatan dengan dampak ke 3.126 Kepala Keluarga (KK), kini ekspansi musim kering mengancam ketersediaan air bersih di pemukiman yang lebih luas.

Baca Juga: Kekeringan di Tuban Meluas, 3.126 KK di Delapan Kecamatan Krisis Air

Sembilan kecamatan yang masuk ke dalam data penanganan BPBD Tuban meliputi Grabagan, Parengan, Senori, Jatirogo, Bancar, Semanding, Montong, Bangilan, dan Soko.

Kepala Pelaksana BPBD Tuban Sudarmaji mengungkapkan, pihaknya terus bergerak intensif di lapangan agar pemenuhan kebutuhan dasar air minum dan masak masyarakat tidak terputus.

"Kecamatan yang mengalami kekeringan ini bukan berarti seluruhnya mengalami krisis air, tapi hanya sebagian wilayahnya saja," ujarnya. 

Kecamatan Baru Mulai Dipasok Air

Meskipun sebaran krisis merembet ke kecamatan lainnya, Kecamatan Grabagan masih mencatatkan tingkat kekeringan paling mengkhawatirkan.

Wilayah geografis perbukitan kapur ini menyedot alokasi cadangan air terbesar, yakni mencapai 96 ribu liter yang disalurkan.

Sementara itu, untuk satu kecamatan tambahan bersama tiga desa baru lainnya, reaksi cepat tim BPBD Tuban telah menjadwalkan alokasi dropping air secara bertahap.

Pengerahan pasokan ke kawasan perluasan ini disesuaikan dengan tingkat kepadatan populasi dan keparahan sumber air setempat.

Skema Operasi Bertahap

Menghadapi radius kekeringan yang menembus 18 desa tersebut, BPBD Tuban mengoptimalkan skema penanggulangan terpadu.

Untuk menopang mobilitas harian, BPBD Tuban megirim empat sampai lima truk tangki berkapasitas 5 ribu hingga 7 ribu liter setiap harinya.

Armada tersebut bergerak mobile menyusuri kawasan perbukitan dan pemukiman pelosok demi memenuhi tandon-tandon penampungan warga.

Skenario Hingga Akhir Tahun

Berdasarkan analisis cuaca terkini, fenomena kemarau di wilayah Bumi Ronggolawe diprakirakan bertahan cukup lama, setidaknya hingga akhir November mendatang.

“Karena musim kemarau di tahun ini lebih panjang dan kering, saya mengimbau masyarakat untuk lebih hemat dalam memanfaatkan air bersih dan waspada terhadap kebakaran, baik permukiman maupun lahan dan juga hutan,” pungkasnya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban
kekeringan krisis air kemarau BPBD Tuban