RADARTUBAN - Berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Tuban dalam mencukupi kebutuhan air bersih warga.
Dari pembangunan sumur bor hingga mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga.
Utamanya di wilayah rawan kekeringan. Namun, tidak semua sumber mata air tersedia hingga musim kemarau.
Kemarau panjang yang dipengaruhi oleh fenomena El Nino telah menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih di sejumlah wilayah termasuk Kabupaten Tuban.
Hingga pekan ini, total sebanyak 19 desa di 9 kecamatan mengandalkan dropping air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban. (Selengkapnya lihat grafis).
Melalui inovasi Mas Lindra Berkibar (Bersinergi Kirim Bantuan Air Bersih), total sudah 403 ribu liter air bersih didistribusikan ke desa-desa terdampak kekeringan. Berkat program yang konsisten dilakukan saban tahun tersebut, kebutuhan air bersih masyarakat tercukupi dengan baik.
Kepala Pelaksana BPBD Tuban Sudarmaji mengatakan, distribusi air bersih melalui inovasi Mas Lindra Berkibar merupakan langkah cepat dalam merespon dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat.
Baca Juga: Kekeringan di Tuban Merembet ke Sembilan Kecamatan, 18 Desa Alami Krisis Air Bersih
Utamanya di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air selama musim kemarau.
‘’Melalui inovasi Mas Lindra Berkibar, alhamdulillah kebutuhan air bersih warga di sejumlah wilayah terdampak kekeringan tercukupi dengan baik,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Diungkapkan Sudarmaji, dibanding beberapa tahun lalu, jumlah desa yang mengalami krisis air bersih sedikit menyusut.
Bahkan tahun lalu tinggal beberapa desa. Namun, karena musim kemarau tahun ini cukup panjang akibat fenomena El Nino sehingga jumlah desa yang terdampak kekeringan dan mengalami krisis air bersih sedikit bertambah dibanding tahun lalu.
Meski demikian, tegas mantan Camat Plumpang itu, kebutuhan air bersih warga di desa-desa terdampak kekeringan tetap terjamin.
Baca Juga: Kekeringan di Tuban Meluas, 3.126 KK di Delapan Kecamatan Krisis Air
‘’Pesan Mas Bupati, jangan sampai ada masyarakat Tuban yang kekurangan air bersih,’’ ujarnya.
Karena itu, tegas dia, wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan dan krisis air bersih telah dipetakan jauh sebelum musim kemarau datang.
‘’Ketika musim kemarau berkepanjangan, desa-desa terdampak kekeringan hampir pasti mengalami krisis air bersih karena sumber mata airnya menyusut. Namun dengan pemetaan yang telah kami lakukan dan berdasar arahan dari Mas Bupati, alhamdulillah krisis air bersih bisa tertangani dengan baik,’’ tuturnya.
Mantan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman itu menyampaikan, berdasarkan pemetaan yang dilakukan BPBD, ada sekitar 14 kecamatan yang berpotensi mengalami krisis air bersih.
Namun, selama musim kemarau tidak berkepanjangan dan ekstrem, kemungkinan tidak terjadi.
'’Untuk memastikan hasil pemetaan dan kebutuhan air bersih warga, kami akan terus melakukan pemantauan di lapangan,’’ katanya.
Lebih lanjut, mantan Camat Plumpang itu menyadari bahwa inovasi Mas Lindra Berkibar tidak bisa berjalan maksimal tanpa adanya kolaborasi dengan semua pihak. Utamanya pemerintah desa.
Karena itu, penting untuk terus meningkatkan kolaborasi dan sinergi, serta meng-update data wilayah terdampak kekeringan secara cepat dan tepat.
‘’Penanggulangan bencana alam, termasuk bencana kekeringan merupakan tanggung jawab bersama sehingga kolaborasi dan sinergi adalah kunci. Itulah yang selalu dipesankan Mas Bupati guna menjamin ketercukupan air bersih warga,’’ tandasnya. (tok)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban