Kemarau Panjang, Krisis Air Bersih di Tuban Diprediksi Meluas hingga 50 Desa

Andreyan (An) • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 13:06 WIB
Kalaksa BPBD Tuban Sudarmaji (kiri) dan Kepala BMKG Tuban Muchammad Nur memberikan keterangan kepada wartawan setelah kegiatan FGD, kemarin (6/10). (Andreyan/Radar Tuban)
Kalaksa BPBD Tuban Sudarmaji (kiri) dan Kepala BMKG Tuban Muchammad Nur memberikan keterangan kepada wartawan setelah kegiatan FGD, kemarin (6/10). (Andreyan/Radar Tuban)

RADARTUBAN – Musim kemarau berkepanjangan tahun ini menimbulkan ancaman serius terhadap ketersediaan air bersih di wilayah Kabupaten Tuban.

Belum adanya tanda-tanda hujan turun sampai saat ini berpotensi semakin memperluas wilayah terdampak bencana kekeringan.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmaji mengatakan, wilayah Bumi Ronggolawe diperkirakan baru turun hujan pada November mendatang. Hanya saja, intensitasnya masih ringan.

Baca Juga: Kemarau di Tuban Belum Berakhir, BMKG Beberkan Penyebab dan Prediksi Musim Hujan 2026

‘’Meski November diprediksi turun hujan, namun belum dapat dikatakan telah masuk musim penghujan. Prediksi kami, Desember seluruh wilayah Tuban baru masuk musim penghujan,’’ beber dia dalam Focus Grup Discussion (FGD) Siaga El Nino, kemarin (6/10).

Sudarmaji menyampaikan, datangnya musim penghujan yang mundur dari perkiraan awal turut berimbas pada masyarakat yang berada di wilayah terdampak kekeringan. ‘’Per Oktober ini saja, permintaan droping air sudah mencapai 31 desa,’’ jelas dia.

Mantan Camat Grabagan itu tak menampik jika belum ada tanda-tanda datangnya musim hujan, maka wilayah terdampak kekeringan berpotensi semakin meluas, termasuk permintaan droping air yang berpotensi meningkat.

Kalau prediksi (datangnya musim hujan Desember, Red) benar-benar akurat, lanjut dia, maka akhir Oktober ini angka (wilayah krisis air bersih, Red) siap-siap naik menjadi 40 desa. Bahkan, jika sampai November-Desember kondisinya tetap seperti saat ini maka bisa mencapai 48-50 desa.

Lebih lanjut dikatakan mantan kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman Tuban itu, BPBD Tuban mulai menyiapkan langkah antisipasi terkait potensi meluasnya dampak kekeringan dalam beberapa bulan ke depan.

‘’Ke depan, kami akan menggandeng pihak-pihak terkait untuk menyalurkan droping air, agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap tercukupi,’’ tuturnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban Muchammad Nur menyampaikan, fenomena El Nino saat ini kondisinya masih cukup menguat.

Karena itu, perlu waktu lama untuk meluruhkannya. Tidak menutup kemungkinan juga awal 2027 El Nino baru berakhir.

Nur mengatakan, dirinya juga menaruh perhatian terhadap para petani yang berada di wilayah rawan kekeringan agar tidak tergesa-gesa memulai masa tanam.

‘’Untuk menghindari kerugian yang semakin besar, sebaiknya menunggu kondisi curah hujan mulai turun, atau bisa memantau selalu melalui laman BMKG Tuban,’’ tandasnya. (an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban BMKG BPBD