RADARTUBAN – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia menunjukkan tren yang semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai sektor mulai mengadopsi AI untuk meningkatkan kecepatan, produktivitas, dan inovasi layanan. Banyak sektor kini memanfaatkan AI. Mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, industri kreatif, hingga pemerintahan.
AI menjadi terobosan teknologi yang mampu melakukan berbagai macam tugas yang umumnya memerlukan kecerdasan manusia. Kecerdasan tersebut seperti kemampuan menalar, membuat keputusan yang tepat, bahkan hingga kemampuan belajar sekalipun.
Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Rhamadhani, dkk (2024) berjudul Pemanfaatan AI (Artificial Intelligence) Dalam Menunjang penyelesaian Tugas Perkuliahan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Di Universitas Negeri Surabaya menyebut, jika AI mencakup berbagai teknologi untuk memungkinkan komputer belajar dan berpikir seperti halnya manusia.
Masih dalam jurnal yang sama, sistem yang dimiliki oleh AI bahkan bisa menganalisis berbagai data yang besar mendeteksi pola, dan memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi.
Sedangkan dalam jurnal yang ditulis oleh Arly, dkk (2023) berjudul Implementasi Penggunaan Artifisial Intelligence Dalam Proses Pembelajaran Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Kelas A, teknologi AI tidak dapat menggantikan peran manusia secara penuh. Sebab, AI tidak dapat menggantikan aspek emosional yang dimiliki oleh manusia.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa AI hanya alat. AI tidak akan bisa mengganti manusia sepenuhnya karena kecerdasan buatan tersebut tetap membutuhkan manusia sebagai operator. Sehingga, akan tiba suatu zaman di mana manusia akan kalah dengan manusia lain yang ahli AI—bukan kalah dengan AI itu sendiri.
Berbagai jenis AI yang sudah lebih populer dikalangan masyarakat, antara lain ChatGPT, Copilot, Gemini, Virtual Assistant, Adobe Firefly, dan Midjourney. Banyak faktor yang melatarbelakangi penggunaan AI di kehidupan sehari-hari, seperti tuntutat deadline tugas dan pekerjaan, tinjauan referensi, mudah dalam mengakses berbagai informasi, hingga melakukan pencarian berdasarkan beberapa kata kunci saja.
Meski dapat membantu, AI saat ini tentu masih memiliki celah dan kekurangan. Seperti keterbatasan kreativitas, kurangnya pemahaman emosi, bias dan ketidakakuratan, kurangnya akses ke data yang berkualitas, dan tak bisa sepenuhnya meniru manusia.
Namun demikian, perkembangan AI juga menimbulkan tantangan baru, termasuk soal etika, perlindungan data pribadi, dan ketimpangan digital. Dengan potensi besar dan pertumbuhan pesat, AI diprediksi akan menjadi salah satu pilar utama transformasi digital di Indonesia, membawa peluang besar untuk masa depan ekonomi dan pendidikan yang lebih maju. (saf/yud)
Editor : Yudha Satria Aditama