RADARTUBAN – Nilai rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat. Bahkan, pada Rabu (4/10) siang sekitar pukul 11.45 tembus Rp 15.631,45 per dolar AS.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti buka-bukaan penyebab anjloknya nilai tukar rupiah tersebut.
Menurutnya, pelemahan yang terjadi terhadap kurs rupiah masih disebabkan memburuknya sentimen pelaku pasar keuangan terhadap kondisi perekonomian di AS.
Terutama yang diperoleh dari pernyataan anggota dewan gubernur Bank Sentral AS The Federal Reserve yang mengindikasikan tekanan terhadap perekonomian AS masih sangat besar.
‘’Tiap kita dengar pernyataan dari member Bank Sentral mereka itu langsung swing market gede sekali,’’ kata Destry di Hotel Four Seasons Jakarta, Rabu (4/10) seperti dilansir dari CNBC Indonesia.
‘’Itu memang di sana board membernya (The Fed) bebas sekali memberi pandangan. Ini yang menimbulkan ketidakpastian, akhirnya memengaruhi ketidakpastian ekonomi di sana dan global,’’ tegas mantan Kepala Ekonom Bank Mandiri itu.
Dia mencontohkan, terus bergerak tingginya indeks dolar atau DXY beberapa hari terakhir ke level 107. Serta, imbal hasil obligasi US Treasury 10 tahun hingga ke level 4,7 persen atau tertinggi sejak 2007. Itu disebabkan pernyataan salah satu anggota dewan gubernur The Fed.
Salah satu anggota dewan gubernur The Fed itu, kata Destry, menyatakan bahwa ada kemungkinan bagi The Fed untuk terus mempertahankan kebijakan moneter ketatnya dalam jangka waktu panjang, setelah sebelumnya pasar meyakini kenaikan Fed Fund Rate hanya terjadi pada November 2023.
‘’Tiba-tiba dua hari lalu salah satu board membernya menyampaikan wah ini inflasi masih tetap tinggi di atas, kita juga masih melihat beberapa leading indicators masih tinggi termasuk wage,’’ kata jebolan Field of Regional Science Cornell University New York itu.
‘’Jadi nampaknya The Fed harus pertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama. Tambah lagi kalau November ada kenaikan Fed Fund Rate 25 basis points akan sama dengan BI Rate kita 5,75 persen,’’ tuturnya.
Dia menegaskan, pelemahan rupiah yang terjadi beberapa hari terakhir hingga tembus Rp 15.600 per dolar AS disebabkan ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global. Sedangkan kondisi di dalam negeri masih sangat baik.
‘’Jadi ini kondisi-kondisi global yang sebenarnya di kita everythings oke. Di domestik relatif aman, kita masih bisa tumbuh 5,17 persen kemarin,’’ ucapnya.
Sebagai informasi, rupiah terpantau anjlok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di saat indeks dolar AS (DXY) terus menerus menguat dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun semakin menarik minat investor.
Dilansir dari Refinitiv, rupiah menembus level psikologis Rp 15.600 per dolar AS. Dan bahkan menyentuh angka Rp 15.630 per dolar AS atau melemah 0,39 persen.
DXY terpantau terus mengalami kenaikan, khususnya dalam empat hari terakhir yang menguat secara konsisten dan signifikan.
Pada 29 September tercatat DXY berada di angka 106,22 dan pada hari ini DXY berada di posisi 107,11 atau naik 0,83 persen dalam empat hari.
Apresiasi DXY telah terjadi sejak pertengahan Juli lalu yang berada di kisaran 99,9 hingga terjadi penguatan lebih dari 7 persen dalam waktu kurang dari tiga bulan saja.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga ikut mengalami apresiasi. Bahkan, per hari ini menyentuh angka 4,84 persen atau telah naik 5,9 persen dari 29 September yang berada di posisi 4,57 persen.
Kenaikan imbal hasil AS ini semakin menarik investor untuk masuk dan memberikan capital inflow kepada AS. Atau dengan kata lain, negara-negara emerging market seperti Indonesia semakin ditinggalkan (terjadi capital outflow). (*)
Editor : Amin Fauzie