RADARTUBAN – Dampak kebijakan efisiensi dan melambatnya perekonomian sejak awal 2025 tampaknya masih berefek sampai sekarang.
Terutama dalam bisnis perhotelan. Libur panjang seperti Mei lalu, pun tidak banyak berpengaruh.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban, tingkat hunian kamar hotel pada Mei 2025 tercatat hanya 15,92 persen.
Angka ini malah menurun 2,7 poin jika dibandingkan dengan bulan April yang mencapai 18,62 persen.
Jumlah tersebut menunjukkan, jika selama Mei hanya ada 15-16 kamar yang terisi dari 100 kamar yang tersedia di setiap hotel di Tuban.
‘’Mayoritas pengguna hotel di Tuban adalah pelaku bisnis, mulai dari pertemuan, kegiatan perusahaan, atau event pemerintahan. Karena fokus sektor di Tuban adalah industri,” jelas Statistisi Ahli Muda BPS Tuban Ika Rahmawati.
Sebanyak 28 hotel yang dicatatkan BPS Tuban erat kaitannya dengan aktivitas industri dan bisnis yang berkembang di Bumi Ronggolawe.
Keberadaan sektor industri semen, pertambangan, hingga pertanian menjadikan kebutuhan akomodasi tetap tinggi, terutama untuk keperluan dinas maupun pertemuan bisnis.
Sehingga, meski diwarnai dengan tanggal merah dan cuti bersama, momen tersebut tidak berdampak terhadap peningkatan hunian hotel. Berbeda dengan kota-kota dengan destinasi wisata unggulan.
‘’Meskipun long weekend, okupansi hotel di Tuban tidak terpengaruhi. Berbeda dengan di Malang atau Jogyakarta. Saat liburan pun masyarakat Tuban cenderung menghabiskan waktu di wisata terdekat saja, dan jarang ada yang pendatang yang berlibur kemari, kecuali saat peringatan hari besar,” tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama