Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Saham BBCA Diskon Gede, CLSA Bilang Outperform dan Targetkan Harganya Segini

Tulus Widodo • Rabu, 1 Oktober 2025 | 21:21 WIB
Investor Asing Jualan, BBCA Jadi Diskon
Investor Asing Jualan, BBCA Jadi Diskon

RADARTUBAN – Saham bank paling prestisius di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), sedang dalam mode “sale”.

Di tengah aksi jual investor asing yang makin deras, harga BBCA justru jadi terlihat murah.

Pertanyaan besarnya: sekarang momen untuk serok, atau tunggu investor asing balik badan?

Pada penutupan perdagangan Selasa (30/9), saham BBCA parkir di Rp 7.625 per lembar, longsor 1,93 persen dibanding sehari sebelumnya.

Tren negatif itu masih berlanjut pada perdagangan Rabu (1/10). Saat penutupan perdagangan Sesi I, BBCA kembali turun 1,3 persen ke harga Rp 7.525.

Sepanjang pekan terakhir grafiknya lebih sering merah ketimbang hijau. Transaksi BBCA pada perdagangan Selasa (30/9) pun jumbo: 170,67 juta saham berpindah tangan dengan nilai Rp 1,31 triliun.

Sayangnya, asing kompak buang barang, net sell tembus Rp 382,32 miliar.

Data BEI menunjukkan sepanjang tahun berjalan, investor asing sudah keluar besar-besaran dari BBCA dengan catatan net sell Rp 29,40 triliun. Tak heran harga sahamnya terjun minus 21,19 persen year-to-date.

Valuasi Lagi Murah, Beda Kelas

Di balik tekanan jual, valuasi BBCA justru makin atraktif. Stockbit Sekuritas mencatat PBV BBCA kini di 3,59 kali, lebih rendah dari rata-rata 3 tahun terakhir (3,97 kali).

PER juga turun ke 16,5 kali dari rerata 17,65 kali. Artinya, saham bank swasta terbesar ini sedang “diskon”.

“Big banks termasuk BBCA masih layak dikoleksi, target harga kami di Rp 8.625,” ujar Muhammad Wafi, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia.

Dividen Tetap Deras, Investor Senyum

Turunnya harga saham tak mengubah kebiasaan BBCA yang terkenal royal membagi dividen.

Wakil Presiden Direktur John Kosasih menegaskan payout ratio tetap tinggi di 68 persen.

“Rentabilitas BCA terjaga, kemampuan bayar dividen kuat, dan ini terus kami pertahankan,” ujarnya dalam Public Expose Live 2025.

Untuk tahun buku 2024, BCA membagikan dividen Rp 300 per saham, naik 11,11 persen dari tahun sebelumnya.

Menariknya, BCA membayar dividen dua kali dalam setahun: interim dan final. Pola ini disukai investor karena cash flow lancar dan bisa diinvestasikan ulang.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Batal Naikkan Cukai Rokok 2026, Saham Emiten Rokok Malah Ambruk Berjamaah! Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Rekomendasi Ganas: CLSA Bilang Outperform

Tak hanya valuasi menarik, BBCA dinilai analis punya DNA konservatif tapi efektif. Laporan CLSA menyebut BBCA sebagai bank paling hati-hati, dengan standar kredit ketat tanpa mengorbankan pertumbuhan.

Saat pandemi, kualitas aset BBCA terbukti lebih tahan banting ketimbang pesaing.

CLSA bahkan memberi rekomendasi outperform dengan target harga Rp 12.100.

Prediksi ROE BBCA 21 persen dengan rasio kecukupan modal superkuat 28,4 persen. Artinya, ruang pembagian dividen besar di masa depan tetap terbuka lebar.

Primadona Lagi?

Meski asing masih “ngerem” di saham bank jumbo, kombinasi valuasi murah plus tradisi dividen deras membuat BBCA tetap kandidat primadona portofolio.

Pertanyaannya tinggal satu: mau serok sekarang saat diskon, atau tunggu asing balik badan baru ikut pesta? (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#bei #BBCA #investor asing #harga saham #Saham BBCA #saham bank