Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Saham BBCA Murah Banget, Target Analis Tembus Rp 11.000 – Momentum Emas Ritel?

Tulus Widodo • Minggu, 5 Oktober 2025 | 12:00 WIB
Saham BBCA akhirnya menghijau tipis perdagangan Jumat (3/10). Foto adalah ilustrasi.
Saham BBCA akhirnya menghijau tipis perdagangan Jumat (3/10). Foto adalah ilustrasi.

RADARTUBAN – Pasar saham kembali memanas. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA akhirnya menghijau tipis 0,35 persen ke level Rp 7.525 pada perdagangan Jumat (3/10).

Ini menjadi penguatan pertama BBCA sepanjang Oktober 2025 setelah sebelumnya lebih banyak tertekan.

Dilansir dari investor.id, sepanjang September 2025, saham bank swasta terbesar ini anjlok 5,57 persen dari posisi akhir Agustus.

Tekanan itu membuat valuasi BBCA kini terbilang murah untuk ukuran sejarahnya sendiri.

Berdasarkan aplikasi Stockbit Sekuritas, rasio price to book value (PBV) BBCA saat ini hanya 3,55 kali – di bawah minus 2 standar deviasi rata-rata tiga tahun terakhir di level 3,95 kali.

Price earning ratio (PER) BBCA juga relatif rendah di 16,28 kali (TTM), lebih rendah dibanding rata-rata minus 2 standar deviasi tiga tahun terakhir di angka 17,56 kali.

“Ini sinyal saham sedang diskon,” kata salah satu analis pasar modal.

Ritel Masuk, Asing Hengkang

Harga yang tertekan justru menjadi magnet bagi investor ritel. Jumlah pemegang saham BBCA melonjak menjadi 612.173 pihak per 30 September 2025.

Angka tersebut naik hampir 90 ribu dari 522.914 pihak pada akhir Agustus. Lonjakan jumlah investor ritel ini jarang terjadi dalam waktu singkat.

Sebaliknya, investor asing justru memilih keluar. Sepanjang sebulan terakhir, asing tercatat net sell saham BBCA senilai Rp 7,02 triliun.

Pola berlawanan ini memunculkan spekulasi: apakah investor ritel sedang menangkap peluang yang dilepas asing?

Potensi ke Rp 11.000

KB Valbury Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA dengan target harga Rp 11.080 per saham berbasis model Gordon Growth (GGM).

Target itu mencerminkan P/B 2025 mencapai 4,8 kali – jauh di atas level perdagangan saat ini yang baru 3,4 kali.

“Valuasi BBCA saat ini sangat menarik karena berada di bawah minus dua standar deviasi,” tulis riset KB Valbury.

Secara fundamental, kinerja BBCA memang solid. Laba bersih (bank only) per Agustus 2025 tumbuh 8,5 persen yoy, melampaui perkiraan KB Valbury dan sejalan dengan konsensus.

Fungsi intermediasi bank juga masih kuat, dengan total kredit tumbuh 9,3 persen yoy – melebihi panduan manajemen, industri, dan proyeksi KB Valbury.

Sepanjang sisa tahun ini, BBCA diperkirakan mampu menjaga stabilitas biaya dana dan menopang margin, termasuk menjaga net interest margin (NIM) tetap sesuai panduan manajemen.

Jalan Terjal Menuju Target

Namun, jalan menuju Rp 11.000 tidak mulus. Tekanan asing bisa menjadi sentimen negatif jangka pendek, apalagi jika pasar global terus bergejolak.

Meski begitu, dengan valuasi diskon dan fundamental solid, BBCA tetap menjadi magnet di tengah volatilitas pasar.

Investor kini dihadapkan pada dilema klasik: mengikuti langkah asing yang melepas saham atau justru meniru strategi ritel yang menyerbu saham saat murah. (*)

Editor : Amin Fauzie
#saham #BBCA #ritel #Valuasi