RADARTUBAN – Manuver “hijau” konglomerat Prajogo Pangestu bukan cuma gimmick CSR, tapi benar-benar mesin cuan.
Setelah proyek retrofit di PLTP Salak unit 4, 5, dan 6 rampung, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) ikut ngebut di pasar modal.
Pada sesi II perdagangan Senin (6/10), BREN melonjak 3,66 persen ke harga Rp 9.900 per lembar.
Direktur Utama BREN, Hendra Soetjipto Tan, menyebut proyek retrofit ini sukses menambah kapasitas terpasang 7,7 megawatt (MW) – lebih tinggi dari target awal 7,2 MW – dengan investasi US$ 22,5 juta.
“Ini bukti komitmen kami meningkatkan kinerja aset, efisiensi operasi, dan keberlanjutan jangka panjang,” tegasnya dilansir dari investor.id.
Baca Juga: IHSG Galau, Saham Taipan Justru Tancap Gas Ngamuk di Bursa – Apa Sinyalnya?
Kapasitas Energy Geothermal 910,3 MW
Dengan rampungnya proyek tersebut, total kapasitas Star Energy Geothermal kini 910,3 MW.
BREN juga sudah punya PLTB Sidrap 1 berkapasitas 78,75 MW di Sulawesi melalui unit Barito Wind.
Hendra menyebutkan, inisiatif ini merupakan bagian dari strategi besar Barito Renewables dalam memperkuat kontribusi pada transisi energi bersih nasional.
“Kami menargetkan penambahan kapasitas panas bumi lebih dari 100 MW dalam beberapa tahun ke depan, dengan total investasi mencapai US$ 365 juta,” ungkapnya.
Tak sekadar angka, manuver ekspansi BREN ini diyakini juga bakal membuka lapangan kerja baru di wilayah operasi.
Langkah ini kian mempertegas peran Barito Renewables sebagai salah satu pemain utama energi terbarukan di Indonesia, sekaligus mengerek sentimen positif sahamnya.
Analisis Bursa: Sinyal Re-Rating untuk BREN?
Di bursa, manuver ekspansi BREN ini dipandang sebagai “bensin” baru bagi valuasinya.
Analis menilai, kombinasi proyek panas bumi dan tenaga angin BREN menciptakan portofolio energi hijau yang makin seksi di mata investor.
Beberapa analis sekuritas menyebut, kinerja BREN bisa mendorong re-rating price-to-earnings (P/E) yang saat ini masih relatif di bawah benchmark perusahaan energi terbarukan regional.
Sentimen positif transisi energi dan komitmen pemerintah mengejar target bauran energi bersih 23 persen pada 2025 diyakini bakal memperkuat prospek BREN.
“BREN sedang dalam momentum emas. Kapasitas terpasang bertambah, pipeline proyek jelas, dan dukungan kebijakan energi bersih pemerintah jadi katalis besar. Investor mulai melihatnya sebagai benchmark baru emiten hijau di BEI,” ujar seorang analis senior.
Saham BREN Menjadi Primadona Baru
Tak hanya soal valuasi, ekspansi BREN juga digadang-gadang membuka ribuan lapangan kerja baru di wilayah operasi.
“Investor melihat story yang lebih lengkap – tidak cuma hijau, tapi juga ada dampak ekonomi riil,” tambah analis tersebut.
Dengan kombinasi kinerja operasional dan sentimen hijau yang terus naik, bukan tidak mungkin saham BREN menjadi primadona baru sektor energi yang mengalahkan emiten lama. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni