RADARTUBAN - Penurunan cadangan devisa Indonesia per September 2025 memang belum alarm merah, tapi cukup jadi lampu kuning terang bagi ketahanan eksternal.
Sebab, tren global justru belum mendukung penguatan rupiah di sisa tahun ini.
Angka di laporan resmi menunjukkan penurunan yang tak kecil: dari US$ 150,7 miliar pada Agustus menjadi US$ 148,7 miliar pada akhir September 2025.
Secara nominal, ada pengurangan US$ 2 miliar hanya dalam sebulan.
BI menyebut penurunan itu disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah pasar keuangan global yang makin tidak menentu.
Ekspor Komoditas Mulai Kehilangan Tenaga
Harga batu bara, CPO, dan nikel — tiga penopang utama surplus neraca dagang Indonesia — mengalami tekanan sejak Agustus.
Permintaan dari Tiongkok dan India melemah seiring perlambatan industri, sementara harga acuan global cenderung sideways.
Data Bea Cukai menunjukkan ekspor komoditas tambang pada Agustus–September turun sekitar 8 persen secara bulanan.
Kondisi ini berpotensi mengurangi pasokan dolar ekspor, sekaligus menekan surplus neraca berjalan di kuartal IV.
Repatriasi Dividen dan Pembayaran Utang BUMN
Akhir tahun juga identik dengan periode repatriasi dividen perusahaan asing serta pembayaran utang luar negeri BUMN energi dan infrastruktur.
Nilainya tidak kecil. Beberapa analis memperkirakan total pembayaran valas bisa mencapai US$ 3–4 miliar hingga Desember.
Jika tidak diimbangi arus modal masuk baru, cadangan devisa berpotensi turun lagi di bawah US$ 147 miliar.
BI di Persimpangan Jalan: Stabilkan Rupiah atau Jaga Amunisi
Bank Indonesia kini berada di posisi sulit. Menahan rupiah di bawah Rp 16.000 jelas penting secara psikologis, apalagi menjelang akhir tahun fiskal dan potensi tekanan inflasi impor.
Tapi, setiap intervensi artinya “bakar dolar” dari kantong cadangan.
“BI sedang bermain di garis tipis. Terlalu agresif jaga rupiah, devisa cepat terkuras. Terlalu pasif, rupiah bisa jebol,” ujar analis senior pasar uang.
The Fed dan Ketegangan Global Masih Jadi Awan Gelap
Belum ada tanda The Fed akan menurunkan suku bunga sebelum Desember.
Sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Laut Cina Selatan membuat investor global cenderung menumpuk dolar dan emas.
Artinya, tekanan terhadap mata uang emerging market — termasuk rupiah — masih berpotensi berlanjut.
Outlook Q4: Rupiah Bisa Ditahan, Tapi Butuh Strategi Non-Valas
Beberapa ekonom menyarankan pemerintah memperkuat buffer lewat percepatan ekspor migas dan mineral olahan serta memperlambat repatriasi dividen lewat insentif pajak.
Selain itu, menarik arus modal portofolio jangka menengah lewat instrumen SBN valas.
Langkah-langkah ini bisa mencegah ketergantungan pada intervensi BI yang mahal secara cadangan devisa.
“Kalau BI terus menahan kurs sendirian, itu seperti menimba air bocor tanpa menutup lubangnya,” ujar ekonom independen.
BI Tegaskan Ketahanan Eksternal Indonesia Masih Solid
Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan ketahanan eksternal Indonesia masih solid, ditopang oleh ekspor yang terjaga dan surplus transaksi modal serta finansial berkat persepsi positif investor terhadap ekonomi domestik.
“Ke depan, BI akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya dikutip dari laman resmi Bank Indonesia. (*)
Editor : Amin Fauzie