Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Emas Cetak Rekor, BBCA Justru Babak Belur Dana Asing Kabur Rp 31 Triliun, Apa yang Sedang Terjadi?

Tulus Widodo • Kamis, 9 Oktober 2025 | 17:35 WIB
Emas dunia cetak rekor baru, tapi saham BBCA melemah tajam
Emas dunia cetak rekor baru, tapi saham BBCA melemah tajam

RADARTUBAN – Bursa kembali mendapat “pelajaran mahal”: bahkan raksasa perbankan seperti BBCA pun tak kebal dari tekanan arus modal asing.

Pada perdagangan Kamis (9/10) pagi, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ambrol lagi — menyentuh level Rp 7.300 per lembar, terendah dalam tiga bulan terakhir.

Di pukul 09.18 WIB, transaksi mencatatkan 32,75 juta saham berpindah tangan, frekuensi 12.874 kali, dan nilai transaksi Rp 241,89 miliar.

Namun arah uangnya jelas: keluar. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip dari investor.id mencatat net sell Rp 82 miliar hanya untuk saham BBCA, tertinggi di antara semua saham net sell hari itu.

Asing Kabur, BBCA Melemah 25 persen

Ini bukan pelemahan satu hari. Sejak awal tahun (year to date/ytd), BBCA sudah melorot hampir 25 persen.

Total dana asing yang hengkang mencapai Rp 31,19 triliun per 8 Oktober 2025.

Sementara, harga saham emas dunia justru melonjak brutal menembus US$ 4.000 per troy ounce, mencetak all-time high.

“Ketika emas reli dan dana asing hengkang, itu sinyal pasar global sedang sangat tidak nyaman. Investor global memilih pelabuhan aman,” kata salah satu analis pasar modal senior di Jakarta.

Dengan kata lain: BBCA — saham bank swasta terbesar Indonesia — kini jadi korban perpindahan uang besar-besaran (big money outflow).

Paradoks Blue Chip: Valuasi Menarik, Harga Babak Belur

Meski harga anjlok, KB Valbury Sekuritas Indonesia justru tetap memasang rekomendasi buy untuk BBCA.

Target harga dipatok Rp 11.080 per saham, atau potensi cuan nyaris 50 persen dari level sekarang.

Target itu berbasis Gordon Growth Model (GGM) dengan PBV 2025 di 4,8 kali.

Saat ini, BBCA hanya diperdagangkan pada PBV 3,4 kali — di bawah -2SD dari rata-rata historis (3,6 kali). Artinya: dari kacamata valuasi, BBCA kini “diskon”.

Masalahnya, investor tampak belum tergoda. Karena diskon ini bukan terjadi dalam ruang hampa — tapi dalam iklim makro yang muram: ketidakpastian global tinggi, dolar menguat, emas jadi pelarian, dan capital outflow menggila.

Big Picture: Ketika Emas Bersinar, Saham Terbakar

Lonjakan harga emas global menandai pergeseran arus dana ke aset lindung nilai.

Di saat investor global berlindung, pasar negara berkembang — termasuk Indonesia — jadi korban arus balik modal.

“Pelemahan BBCA ini bukan cerminan kinerja fundamental semata, tapi efek domino dari gejolak global,” ujar analis lain.

Fakta Cepat BBCA: 

Ini Bukan Sekadar Koreksi

BBCA selama ini dikenal sebagai “saham super defensif”, langganan investor institusi dan asing.

Jika saham sebesar BBCA saja bisa goyah, ini pertanda tekanan pasar sedang tidak main-main.

Pertanyaan besar kini bukan “berapa harga BBCA minggu depan”, tapi berapa banyak lagi dana asing akan keluar. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#emas #investor #bei #saham #BBCA #Saham BBCA #bursa efek indonesia