RADARTUBAN – Mesin penggerak saham perbankan kembali dipanaskan. Saham BBCA (PT Bank Central Asia Tbk) direkomendasikan “buy” oleh UOB Kay Hian Sekuritas dengan target harga agresif Rp 10.500 per lembar.
Rekomendasi ini keluar di tengah tren pasar yang kian selektif terhadap saham-saham blue chip sektor keuangan.
Analis UOB KayHian, Posmarito Pakpahan, menilai BBCA masih menjadi bank paling solid dari sisi profitabilitas dan likuiditas.
“BBCA punya fundamental yang sangat kuat. Kinerja intermediasi perbankan dan efisiensi biaya yang konsisten jadi katalis utama pergerakan harga ke depan,” ujar Pakpahan dalam riset terbarunya.
Pada perdagangan Sesi I Kamis (16/10) hingga pukul 11.15, BBCA diperdagangan pada rentang Rp 7.225 - 7.325 per lembar saham.
Valuasinya mencapai Rp 392,1 miliar, termasuk salah satu top market pada perdagangan sesi I.
Pasar Perbankan Punya Ruang Ekspansi Besar
Sentimen positif juga diperkuat oleh ekspektasi pertumbuhan kredit dan pendapatan bunga bersih yang stabil di tengah tekanan suku bunga global.
Menurutnya, pasar perbankan masih punya ruang ekspansi besar, terutama dengan strategi digital yang makin agresif.
“Investor jangka menengah hingga panjang masih akan menganggap BBCA sebagai saham defensif yang aman tapi tetap atraktif dari sisi return,” lanjutnya.
Primadona di Sektor Perbankan
Sejauh ini, saham BBCA masih menjadi primadona di sektor perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo dan basis investor institusi yang kuat.
Rekomendasi buy dengan target Rp 10.500 itu mencerminkan potensi upside yang cukup menarik dari posisi saat ini.
Pengamat pasar modal menyebut, sentimen ini juga bisa memicu efek domino terhadap saham perbankan lain.
“Kalau BBCA ngebut, efek psikologisnya ke indeks sangat kuat. Banyak investor ritel maupun institusi menjadikan BBCA sebagai patokan arah pasar,” ujar salah satu pelaku pasar yang enggan disebutkan namanya.
Dengan target tersebut, BBCA berpeluang kembali mencetak rekor harga tertinggi baru jika tren pembelian terus menguat. Investor pun diminta tidak ketinggalan momentum. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni