RADARTUBAN- Kisah sukses Theo Derick, entrepreneur muda sekaligus content creator, menjadi bukti bahwa peluang besar bisa lahir dari hal sederhana.
Siapa sangka, tugas kuliah justru menjadi pintu awal perjalanan bisnis yang kini membuatnya dikenal luas sebagai pendiri platform edukasi saham Cafe Midstocks.
Dalam podcast Raditya Dika berjudul “Punya Bisnis Gara-gara Tugas Kuliah”, Theo menceritakan bagaimana dirinya memulai usaha dari nol.
Saat berkuliah di Universitas Prasetiya Mulya, ia berjualan berbagai barang murah yang kemudian dijual kembali di kampus untuk menambah uang kuliah.
Namun titik balik datang ketika ia menjual kue lapis buatan ibunya—strategi sederhana yang justru menjadi langkah besar pertama dalam dunia wirausaha.
“Awalnya cuma jualan kue, tapi ternyata dari situ aku belajar banyak soal strategi dan kepercayaan diri,” kenangnya.
Keberhasilan awal itu mendorong Theo mendirikan event organizer (EO) pertamanya dengan modal pinjaman.
Event perdana berjalan sukses, tapi di proyek kedua ia justru harus menelan kerugian besar hingga sempat didemo oleh tenant.
“Dari situ saya belajar, yang benar belum tentu bijak,” ujarnya reflektif.
Saat pandemi melanda dan bisnis EO lumpuh total, Theo kembali beradaptasi.
Ia mengubah arah bisnis ke sektor edukasi saham digital. Melalui pendekatan personal branding dan konten yang kuat, Cafe Midstocks berkembang pesat hingga mencatat omzet ratusan juta rupiah hanya dari satu kelas.
Theo menekankan pentingnya memahami model bisnis dan efisiensi operasional, termasuk pemanfaatan alat digital seperti ODU, agar pelaku usaha bisa fokus pada strategi, bukan hanya teknis.
Namun bagi Theo, kesuksesan bukan sekadar nominal pendapatan.
“Sekarang saya nggak lagi ngejar target besar. Saya cuma mau nikmati prosesnya, lakukan yang terbaik, dan ingat bahwa semua ini karena doa orang tua dan kuasa Tuhan,” ucapnya.
Perjalanan Theo adalah kisah tentang kegigihan, adaptasi, dan iman.
Dari menjajakan kue lapis di kampus hingga membangun bisnis edukasi bernilai ratusan juta, ia membuktikan bahwa keberhasilan lahir dari keberanian untuk mencoba, gagal, dan bangkit lagi.
“Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa tulus kita menikmati prosesnya,” tutupnya penuh makna. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni