RADARTUBAN — Bursa saham domestik mendadak panas dingin. Setelah sepekan berlumur merah, indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya melompat gila-gilaan dan parkir manis di level 8.088,978 pada akhir perdagangan Senin (20/10).
Kenaikan 173,322 poin atau 2,19 persen ini jadi comeback spektakuler pasar modal Indonesia yang sebelumnya terseok-seok.
Data Bursa Efek Indonesia dikutip dari RTI Business menunjukkan, IHSG sempat dibuka di 7.988,448 lalu meroket hingga menyentuh level tertinggi harian 8.117,269 sebelum akhirnya sedikit melandai jelang penutupan.
Volume transaksi mencapai 35,05 miliar saham dengan nilai turnover Rp 22,86 triliun.
Dari total emiten yang diperdagangkan, 510 saham menghijau, 183 saham melemah, dan 117 stagnan.
Pasar Rebound Keras Usai Tekanan Global
Lompatan ini tidak muncul begitu saja. Pasar sebelumnya sempat berdarah-darah akibat tekanan global dan arus keluar modal asing. Selama sepekan, IHSG anjlok 1,68 persen.
Namun pada perdagangan Senin, investor seperti mendapat amunisi baru untuk memborong saham, terutama pada sektor perbankan, komoditas, dan konsumer.
“Lonjakan IHSG kali ini jelas bukan euforia biasa. Investor mulai agresif setelah melihat sinyal stabilitas global membaik dan ekspektasi suku bunga The Fed mulai turun,” ujar seorang analis pasar modal senior di Jakarta.
Kalender Hijau: Sinyal Comeback Pasar
Melihat IDX Diary, peta pergerakan pasar memperlihatkan perubahan mood drastis.
Dalam 30 hari perdagangan terakhir, IHSG mencatat 12 hari hijau vs 9 hari merah, dengan akumulasi kenaikan +0,59 persen.
Oktober ini pasar seakan lepas dari ‘kutukan’ September merah yang mendominasi.
Minggu lalu pasar berlumur tekanan, terutama tanggal 14–17 Oktober, di mana indeks tertekan empat hari berturut-turut.
Tapi Senin ini, rebound tajam seperti “tendangan penalti di menit 90”.
Kinerja Jangka Panjang Tetap Perkasa
IHSG memang sempat melemah dalam jangka pendek, tapi performa jangka menengah hingga panjang masih kinclong.
Dalam 6 bulan terakhir, indeks melonjak 24,98 persen. Sepanjang tahun berjalan (YTD) naik 14,25 persen.
Dan kalau ditarik mundur 5 tahun, IHSG sudah naik 74,27 persen — sinyal kuat kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
Range pergerakan juga semakin tinggi. Dalam 3 bulan terakhir, level IHSG melesat dari 7.306 ke area 8.288.
Angka ini menjadi zona resistensi psikologis baru yang sedang diuji oleh pelaku pasar.
Euforia Terukur, Tapi Awas Euforia Semu
Meski tren harian menguat, analis mengingatkan agar investor tak buru-buru ‘fomo’. “Euforia pasar kadang bisa menipu. Jika tidak disertai fundamental yang kuat, rally tajam seperti ini rawan koreksi cepat,” ujar salah satu pengamat pasar modal di kawasan Sudirman.
Aksi beli besar-besaran di saham unggulan bisa saja diikuti aksi ambil untung dalam beberapa hari ke depan.
Apalagi tekanan eksternal—seperti tensi geopolitik dan arah kebijakan bank sentral AS—belum sepenuhnya mereda.
Sektor Unggulan Siap Melaju
Katalis positif datang dari sektor perbankan, infrastruktur, dan komoditas yang menjadi mesin penggerak indeks.
Saham-saham big cap kembali jadi incaran investor asing, memperkuat pondasi rally.
Jika tren ini konsisten, bukan tidak mungkin IHSG akan kembali mengetes level resistance 8.288 dalam waktu dekat.
DATA UTAMA IHSG — 20 OKTOBER 2025
Penutupan: 8.088,978 (+173,322 / +2,19 persen)
Turnover: Rp 22,86 Triliun
Volume: 35,05 Miliar saham
Saham naik: 510, Turun: 183, Tak berubah: 117
High: 8.117,269 | Low: 7.937,385
Kinerja 6 Bulan: +24,98 persen dan 5 Tahun: +74,27 persen
Pasar Mulai Hidup Lagi
Setelah dua pekan dihantam tekanan global, hari ini pasar modal Indonesia seperti bangun dari tidur panjang.
Investor kembali gaspol, indeks melonjak tajam, dan sentimen mulai berbalik arah. Namun seperti biasa, euforia besar selalu datang dengan risiko besar pula.
“Ini baru babak pertama. Permainan sesungguhnya akan dimulai saat IHSG mendekati 8.300-an. Di sana, pasar akan benar-benar diuji,” tutup seorang analis teknikal. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni