RADARTUBAN – Setelah sempat berpesta sehari sebelumnya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akhirnya terpeleset ke zona merah.
Pada sesi pertama perdagangan Rabu (22/10), saham bank terbesar di Indonesia ini terpantau melemah -1,2 persen ke level Rp 8.375 per saham pada pukul 11.40 WIB.
Tekanan jual yang deras membuat saham BBCA sulit bertahan di jalur hijau. Sebanyak 196,84 juta lembar saham berpindah tangan, dengan frekuensi transaksi 43.709 kali dan nilai mencapai Rp 2,2 triliun.
Data dari Stockbit Sekuritas dikutip dari investor.id menunjukkan bahwa BBCA menjadi korban aksi jual asing terbesar di bursa dengan net sell mencapai Rp 278,6 miliar, tertinggi di antara seluruh saham yang mengalami tekanan hari itu.
Ironisnya, ini terjadi hanya sehari setelah saham BBCA melonjak 7,62 persen pada perdagangan Selasa (21/10) berkat derasnya aliran dana investor asing.
Euforia Berakhir, Koreksi Dimulai
Menurut Equity & Fixed Income Analyst KGI Sekuritas, Rovandi, penurunan BBCA wajar terjadi setelah reli yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.
“Memang ada potensi koreksi terhadap saham perbankan karena naiknya sudah lumayan tinggi. Malah ada potensi koreksi sale-on di saham perbankan ini,” ujar Rovandi dalam keterangan daring kepada B Universe, Selasa (21/10).
Rovandi menilai aksi jual ini merupakan bagian dari strategi profit taking menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pertengahan pekan ini.
“Bagus atau tidaknya hasil RDG BI, tetap ada potensi aksi profit taking. Karena kan sudah diprediksi. Tapi jangka panjangnya, tetap akan menguat,” tegasnya.
Dengan kata lain, investor tengah memainkan momentum — menyimpan untung dulu sebelum keputusan suku bunga keluar.
Koreksi Wajar, Tapi Sinyal Sentimen Mulai Berubah
Aksi jual besar-besaran di saham BBCA mengindikasikan sentimen pasar mulai berhati-hati terhadap sektor perbankan.
Beberapa analis menilai, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga yang masih cenderung ketat membuat investor memilih bermain aman.
Namun secara fundamental, BCA masih dianggap sebagai bank dengan neraca paling sehat dan risiko kredit paling rendah di sektor keuangan.
Itu sebabnya, banyak analis memperkirakan koreksi ini hanya bersifat sementara — sekadar jeda sebelum rebound.
Meski begitu, pasar juga tahu bahwa saham BBCA kini sudah berada di level premium, dengan valuasi yang relatif mahal dibandingkan bank-bank besar lain seperti BRI atau Mandiri.
Artinya, ruang kenaikan makin terbatas kecuali ada katalis kuat baru dari kinerja kuartalan atau kebijakan BI yang lebih longgar.
Catatan Bursa: Momentum Cepat Bisa Jadi Pedang Bermata Dua
Pergerakan BBCA kali ini menjadi pengingat bahwa saham perbankan besar pun tak kebal dari volatilitas jangka pendek.
Dalam pasar yang sensitif terhadap sinyal makroekonomi, bahkan satu komentar bank sentral bisa membuat saham “blue chip” sekalipun tersandung.
Investor jangka pendek mungkin meraup cuan cepat, tapi bagi pemain besar dan investor institusi, rebalancing seperti ini adalah manuver rutin menjelang data ekonomi krusial.
Sementara bagi publik, pesan utamanya jelas: tak ada saham yang terus naik tanpa koreksi, bahkan untuk BBCA sekalipun. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni