RADARTUBAN - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tampaknya belum mau angkat kaki dari radar investor.
Raksasa perbankan swasta terbesar di Indonesia itu mulai menyalakan tiga mesin cuan untuk tahun depan — dengan satu pesan jelas: pertumbuhan dan efisiensi akan jadi bahan bakar utama.
Henan Putihrai Sekuritas mencatat, BBCA akan menggeber tiga motor penggerak pertumbuhan pada 2026.
Pertama, memperluas pangsa pasar dana murah (CASA) di segmen non-ritel.
Kedua, mengerek pendapatan berbasis komisi (fee based income) lewat strategi cross selling yang makin agresif.
Ketiga, berinvestasi lebih dalam di teknologi dan digitalisasi, bukan hanya untuk efisiensi biaya, tapi juga memperkuat mesin pendapatan berkelanjutan.
Dividen, Buyback, dan Janji Cuan ke Pemegang Saham
Tak berhenti di sana. BBCA juga kembali memainkan jurus manis untuk investor: program buyback saham senilai hingga Rp 5 triliun dengan harga maksimal Rp 9.200 per saham.
Langkah ini disandingkan dengan wacana menaikkan dividend payout ratio (DPR) tahun buku 2025.
“BBCA diyakini mampu mempertahankan rasio dividen yang lebih tinggi dalam jangka panjang, berkat basis permodalan yang kuat sebesar 29,9 persen per September 2025,” tulis analis Henan Putihrai Sekuritas, James Stanley Widjaja, dalam riset yang dikutip dari Investor.id, Senin (27/10).
Dengan modal setebal itu, BBCA seperti memberi sinyal: kapan pun ekonomi melambat, kami masih punya amunisi untuk berbagi cuan.
2026–2027: Laba Melaju, Tapi Margin Bisa Tergelincir
Henan Putihrai juga membaca arah strategi bank dengan kode saham BBCA ini cukup optimistis.
Pertumbuhan laba diperkirakan terakselerasi pada 2026–2027, seiring kenaikan kredit dan lonjakan pendapatan komisi.
Namun, analis tak menutup mata: margin bunga bersih (NIM) BBCA berpotensi menyusut sekitar 20 bps, akibat penurunan suku bunga acuan dan persaingan likuiditas yang makin ketat.
“Kami tetap berhati-hati dalam asumsi credit cost dan memproyeksikan biaya kredit sebesar 50 bps untuk tahun 2025–2027,” ujar James.
Dengan kata lain, walau mesin cuan sudah dinyalakan, rem kewaspadaan tetap diinjak.
Target Saham Rp 10.000 — Buy Sinyal Jelas
Henan Putihrai Sekuritas pun kembali menegaskan rekomendasi “buy” untuk saham BBCA, dengan target harga Rp 10.000 per lembar berdasarkan metode dividend discount model (DDM).
Target itu setara valuasi P/BV 2026 sebesar 4 kali, sementara harga pasar kini mencerminkan valuasi sekitar 3,2 kali.
Artinya, potensi kenaikan masih terbuka lebar — apalagi risiko likuiditas dan kualitas aset dinilai sudah tercermin di harga.
“Keyakinan kami didasari oleh kekuatan BBCA yang unik sebagai bank transaksi terbesar di Indonesia, serta membaiknya prospek ekonomi makro, yang dapat mempercepat pertumbuhan laba dan mempertahankan keunggulan return on equity (ROE) dan return on assets (ROA),” pungkas James.
Antara Optimisme dan Realitas Pasar
Di satu sisi, BCA memang terus menunjukkan konsistensi sebagai bank dengan “mesin uang” paling efisien di negeri ini.
Tapi di sisi lain, pasar masih mengintai arah kebijakan suku bunga global dan tekanan biaya dana yang bisa menekan margin.
Sederhananya, BBCA sudah siap dengan bahan bakar, tapi jalan menuju target Rp 10.000 masih bisa berliku.
Tetap saja, bagi investor jangka panjang, saham BBCA tetap terasa seperti safe bet — mahal, tapi solid. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni