Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Aturan Baru MSCI Bisa Guncang Pasar Saham RI, Potensi Outflow Asing Mengintai!

Tulus Widodo • Selasa, 28 Oktober 2025 | 16:45 WIB
MSCI berencana ubah perhitungan free-float saham RI pakai data KSEI
MSCI berencana ubah perhitungan free-float saham RI pakai data KSEI

RADARTUBAN - Langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengutak-atik aturan perhitungan free-float saham asal Indonesia mulai mengusik pelaku pasar.

Wacana perubahan metode ini bisa menjadi sinyal serius bagi arah aliran modal asing di bursa Tanah Air.

Dalam presentasi terbarunya, MSCI mengungkap rencana menghitung free-float menggunakan data kepemilikan saham yang diterbitkan rutin oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) setiap bulan.

Artinya, data kepemilikan saham publik akan lebih aktual dan detail — tapi di sisi lain, bisa “mempersempit” ruang bagi banyak emiten Indonesia yang kepemilikannya masih didominasi oleh korporasi besar atau kelompok tertentu.

Kendati belum final, rencana ini tengah dibuka untuk tanggapan pasar hingga 31 Desember 2025.

Keputusan final dijadwalkan diumumkan pada 30 Januari 2026, dan bila disetujui, akan mulai diterapkan pada periode rebalancing Mei 2026.

“MSCI saat ini menerima masukan dari partisipan pasar terkait hal ini,” tulis lembaga penyusun indeks global tersebut.

Baca Juga: IHSG Meledak ke 8.230! Bursa Lokal Bangkit Setelah Tekanan Global Mereda

Perubahan Teknis, Dampak Strategis

Selain sumber data yang lebih ketat, MSCI juga berencana mengubah metode pembulatan angka free-float.

Untuk high float di atas 25 persen, pembulatan dilakukan ke kelipatan 2,5 persen terdekat.

Untuk low float (5–25 persen), ke kelipatan 0,5 persen.

Sementara very low float (di bawah 5 persen) juga akan dibulatkan ke 0,5 persen.

Sekilas tampak teknis, tapi konsekuensinya besar.

Bila free-float turun akibat metode baru ini, bobot saham-saham Indonesia di indeks MSCI global bisa menyusut.

Dan itu artinya—ada potensi capital outflow atau arus keluar dana asing dari pasar modal RI.

Potensi Efek Domino ke IHSG

Banyak analis menilai, Indonesia berisiko terdampak lebih besar dibanding negara lain.

Struktur kepemilikan di banyak perusahaan lokal memang masih terkonsentrasi di tangan grup usaha atau keluarga besar.

Dengan proporsi publik yang terbatas, aturan baru MSCI bisa menurunkan daya saing saham-saham Indonesia di mata investor institusional global.

Bila porsi Indonesia dalam indeks MSCI menyusut, manajer dana pasif yang mengikuti indeks tersebut otomatis harus menyesuaikan portofolionya — dan ini bisa memicu tekanan jual tambahan di pasar domestik.

Baca Juga: Saham BBCA Melesat 7,6 Persen! Trio Bank Raksasa Seret IHSG ke Rekor Tertinggi Tahun Ini

Menunggu Kepastian 2026

Namun untuk saat ini, pelaku pasar masih punya waktu. MSCI belum mengetuk palu final. Proses konsultasi masih berlangsung hingga akhir 2025.

Semua masukan dari otoritas, manajer investasi, dan pelaku industri akan menjadi bahan evaluasi sebelum keputusan akhir dirilis pada Januari 2026.

Meski begitu, sinyal kehati-hatian mulai terasa. Beberapa investor memilih menahan posisi (hold) sambil menunggu kejelasan arah kebijakan ini.

Sebab, dampak revisi metodologi free-float bukan sekadar angka di laporan, melainkan bisa menentukan seberapa besar peran Indonesia di peta investasi global dua tahun mendatang. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#investor #Free Float #saham #ksei #MCSI #ihsg