RADARTUBAN - Indonesia kini menjadi pusat perhatian ekonomi Asia Tenggara. Nilai ekonomi digitalnya diperkirakan menembus $100 miliar USD pada 2025, lebih cepat dari perkiraan.
Lonjakan ini dipicu perubahan perilaku konsumen yang semakin mengedepankan "keinginan membeli" (willingness to spend) di platform online.
Data tersebut disampaikan dalam laporan tahunan terbaru dan dijelaskan oleh Veronica Utami, Country Director Google Indonesia, dalam podcast #IntrigueRK di kanal YouTube Rhenald Kasali pada Kamis (11/12).
Laporan itu menyoroti kontradiksi yang cukup mencolok.
Di satu sisi, banyak pihak mengeluhkan daya beli menurun, tetapi di sisi lain pengeluaran untuk produk non-primer justru naik tajam.
Salah satunya terlihat dari penjualan makanan hewan peliharaan yang tumbuh 15% tahun ini.
Fakta ini menunjukkan bahwa pergeseran ke digital telah menciptakan kekuatan permintaan baru di luar analisis ekonomi tradisional.
Masyarakat kini mencari kepuasan dan hiburan melalui belanja online, sehingga pola pengeluaran mereka pun berubah.
Dua sektor menjadi pendorong utama percepatan ini: Video Commerce dan Kecerdasan Buatan (AI).
Indonesia mencatat 2,6 miliar transaksi di sektor video commerce dengan pertumbuhan tahunan mencapai 90 persen, menjadikannya yang tercepat dan terbesar di dunia.
Platform digital berperan sebagai ekosistem, tidak hanya menyediakan tempat jualan, tetapi juga memungkinkan monetisasi bagi kreator konten yang dipercaya.
“Di tahun ke-10 ini kita juga punya datanya gitu, bahwa tahun 2025 ini perekonomian digital Indonesia itu diperkirakan akan mencapai 100 miliar US dollars,” ungkap Veronica, menegaskan skala capaian ekonomi digital.
Adopsi AI juga sangat tinggi. Indonesia menjadi salah satu pengguna AI generatif tertinggi di dunia.
Bahkan, kenaikan pendapatan untuk aplikasi berfitur AI mencapai 127 persen, menunjukkan bahwa konsumen bersedia membayar untuk layanan berbasis AI.
Namun, ada tantangan serius di balik optimisme ini. Meskipun adopsi AI sangat tinggi di sisi konsumen, jumlah startup pengembang AI di Indonesia masih tertinggal jauh.
Indonesia baru memiliki sekitar 45 startup AI, kalah dengan negara tetangga seperti Singapura yang memiliki 495.
"Kalau kita lihat Indonesia kan sekarang ada sekitar kemarin hitungannya adalah 45 startup. Tapi kalau kita lihat Singapura 495," ujar Veronica.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan sektor swasta untuk mendorong inkubasi dan pelatihan talenta AI, agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pencipta solusi digital.
Dukungan terhadap developer lokal dan fokus pada pendidikan smart parenting untuk memastikan penggunaan teknologi yang aman bagi anak-anak juga ditekankan sebagai kunci keberlanjutan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama