RADARTUBAN - Jutaan masyarakat Indonesia saat ini menghadapi tantangan berat untuk keluar dari jeratan utang konsumtif yang terus membengkak.
Situasi sulit ini, yang disebut sebagai kondisi "dari minus," terjadi kapan saja dan di mana saja, menjerat individu dengan bunga pinjaman yang tinggi.
Menurut analisis terbaru yang disampaikan oleh pengamat keuangan, Theo Derick bersama Billy Tanhadi, dalam podcast #DariNol yang tayang di kanal YouTube Theo Derick pada Kamis (11/12), akar masalah krisis utang individu adalah rendahnya daya hasilkan uang (earning power) mayoritas masyarakat, bukan semata-mata masalah pengelolaan investasi.
Dijelaskan bahwa bagi 99 persen masyarakat Indonesia, tabungan mereka berada di bawah Rp100 juta.
Dengan kondisi ini, permasalahan keuangan utama bukanlah investasi, melainkan kemampuan dasar untuk mencari dan mendapatkan penghasilan yang memadai.
"Permasalahan di Indonesia itu bukan investasi, tapi earning power," ujar Theo Derick, menjelaskan bahwa inilah yang menjadi kunci utama perubahan.
Pemuda melek finansial itu juga menyoroti bahwa masyarakat yang dikejar utang seringkali mengalami kerusakan psikologis yang menyebabkan kesulitan berpikir jernih dan mencari solusi.
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh individu yang terlilit utang adalah mengurangi beban bunga.
Strategi "gali lubang tutup lubang" disarankan, yaitu memindahkan utang berbunga tinggi ke instrumen berbunga lebih rendah.
Dalam kasus ekstrem, opsi realistis namun pahit adalah mencari sumber dana tanpa bunga dari relasi terdekat, meski berisiko tinggi.
"Memperkecil bunga utang sama memperkecil utang tuh dua hal yang beda," kata Billy Tanhadi, menekankan bahwa fokus awal adalah meringankan beban biaya pinjaman.
Selain itu, aset pribadi yang masih dapat dijual harus dilepas untuk menutupi pokok utang.
Theo Derick juga memberikan peringatan keras untuk tidak menggunakan investasi sebagai jalan pintas melunasi utang.
Menurutnya, tidak ada rumus investasi yang dapat melunasi utang. Utang harus dibayar menggunakan surplus cash flow yang didapat dari gaji, bisnis, atau dividen, bukan dari spekulasi di pasar modal.
"Hutang cuma bisa dibayar dari surplus cash flow," tegasnya, menegaskan bahwa menggunakan pinjaman untuk investasi berisiko tinggi adalah tindakan menjerumuskan diri.
Untuk memutus siklus utang secara permanen, seseorang harus mencari "tujuan hidup yang lebih besar" (greater goals), seperti kebahagiaan keluarga, yang dapat menjadi motivasi kuat untuk mengubah kebiasaan berutang.
Analisis ini menyimpulkan bahwa upaya keluar dari jurang utang membutuhkan kekuatan kehendak yang luar biasa dan disiplin finansial jangka panjang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama