Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Batik Malessa, Usaha Rumahan di Solo yang Berdayakan Perempuan dan Naik Kelas Bersama BRI

Ardian Ananto • Minggu, 14 Desember 2025 | 18:36 WIB

UMKM Batik Malessa Solo mengusung prinsip zero waste dan pemberdayaan perempuan berkat pembinaan BRI.
UMKM Batik Malessa Solo mengusung prinsip zero waste dan pemberdayaan perempuan berkat pembinaan BRI.

RADARTUBAN - Di salah satu sudut Kampung Dipotrunan, Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, geliat mesin jahit berpadu dengan tangan-tangan terampil para perempuan yang sibuk menata kain batik, memotong lurik, hingga menjahit pola.

Dari tempat sederhana inilah karya Batik Malessa lahir dan menjadi penopang ekonomi keluarga setempat.

Usaha ini dirintis Madu Mastuti sejak 2018. Berangkat dari mimpi sederhana, Madu ingin menciptakan ruang bagi ibu rumah tangga agar tetap berdaya secara ekonomi tanpa meninggalkan peran dalam keluarga.

Seiring waktu, Batik Malessa tidak hanya berkembang secara bisnis, tetapi juga menjadi sumber inspirasi pemberdayaan perempuan di lingkungannya.

Baca Juga: Dukungan Total BRI untuk Flyover Sitinjau Lauik: Pembiayaan Sindikasi dan BRI One Solutions

Madu melihat banyak perempuan memiliki keterampilan, namun minim ruang untuk bekerja.

Dari situlah dia membentuk Kelompok Wanita Berkarya, wadah belajar dan bekerja bagi ibu rumah tangga sambil mengasuh anak.

“Awalnya kami membuat daster dari kain perca, kain sisa yang diolah menjadi baju rumahan. Lama-kelamaan usaha berkembang hingga merambah ke kerajinan dan fashion. Kini kami memproduksi produk premium dari batik, lurik, dan tenun,” ujar Madu.

Kombinasi batik, lurik, dan tenun itu kemudian melahirkan produk fashion eksklusif dengan ciri khas kuat dan nilai jual tinggi.

Nama Malessa sendiri merupakan gabungan nama Madu dan putrinya, Alesa, yang merepresentasikan perjalanan pribadi sekaligus usaha keluarga.

Seluruh legalitas usaha pun telah lengkap, mulai dari HAKI, NIB, hingga TKDN.

Produk Malessa terbagi dalam dua lini, yakni produk massal seperti daster dan busana rumahan yang dipasarkan di toko oleh-oleh besar.

Serta produk premium yang dirancang secara eksklusif. Proses produksi menerapkan quality control ketat, diawali dengan pembuatan sketsa desain agar setiap produk tetap unik.

Prinsip zero waste juga dijalankan secara konsisten. Sisa kain dimanfaatkan menjadi tas, topi, bantal, dompet, hingga gantungan kunci.

Keunikan tersebut membuat produk Malessa dilirik berbagai kalangan, mulai dari pembawa acara Piala Dunia U-17 hingga sejumlah pejabat publik.

Saat ini, rumah produksi Malessa melibatkan delapan orang pekerja, terdiri dari enam perempuan dan dua laki-laki, mulai dari penjahit hingga kurir.

Dua di antaranya telah didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Kapasitas produksi meningkat hingga 40 persen dibandingkan awal usaha, seiring hadirnya mesin jahit dan mesin potong baru melalui fasilitas KUR BRI.

“Alhamdulillah, sejak 2018 hingga 2025 usaha kami terus berkembang dan memberdayakan masyarakat sekitar. Kami kini bermitra dengan toko oleh-oleh dan toko batik di dalam maupun luar kota, bahkan di bandara,” kata Madu.

Baca Juga: BRI Perkuat Inklusi Keuangan di Perbatasan, AgenBRILink Jangkau Desa 3T Sebatik

Dukungan BRI melalui Rumah BUMN BRI Solo menjadi momentum penting bagi perkembangan Malessa.

Selain permodalan, Madu mengikuti berbagai pelatihan dan pendampingan, mulai dari BIMTEK ekspor hingga program BRIncubator yang membekali UMKM dengan pengetahuan bisnis, digitalisasi, dan kesiapan ekspor.

Berkat pendampingan tersebut, produk Malessa kini tersebar di berbagai toko, bandara, dan hotel di Surakarta. Produk mereka juga pernah dipamerkan di luar negeri, seperti Belanda, Swiss, dan Australia.

“Program BRI sangat luar biasa. Saya mendapatkan banyak ilmu, pendampingan, dan orientasi peningkatan kapasitas agar UMKM bisa naik kelas dan siap ekspor,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan komitmen BRI dalam mendorong UMKM agar terus berkembang melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk Rumah BUMN BRI.

Selain permodalan, BRI juga memberikan pembinaan, pendampingan usaha, serta membuka akses pasar hingga mancanegara.

Hingga akhir September 2025, BRI telah membina 54 Rumah BUMN BRI dan menyelenggarakan lebih dari 17 ribu pelatihan di berbagai daerah.

“Upaya ini merupakan bagian dari strategi BRI untuk memperkuat ekosistem UMKM di Indonesia. Dengan dukungan pemberdayaan yang berkelanjutan, UMKM diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan menghasilkan nilai tambah,” tegasnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#BRI #tkdn #ekonomi #surakarta #UMKM #berkarya #HAKI #NIB