RADARTUBAN - Lembaga keuangan internasional, Dana Moneter Internasional (IMF), baru saja merilis pembaruan terkait prediksi ekonomi dunia untuk periode 2026 hingga 2027.
Analisis IMF terbaru memprediksi bahwa laju pertumbuhan ekonomi global akan cenderung stagnan, bersamaan dengan tren penurunan tekanan inflasi serta adanya potensi penyusutan pada volume perdagangan internasional.
Berdasarkan laporan World Economic Outlook (WEO) Update edisi Januari 2026, IMF memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 akan tertahan di level 3,3%.
Angka tersebut menunjukkan konsistensi yang sama dengan estimasi pertumbuhan pada tahun 2025 dan realisasi tahun 2024 yang juga berada di angka 3,3%.
Meski begitu, pada tahun 2027 kewaspadaan muncul, di mana ekonomi global diperkirakan akan mengalami perlambatan ke level 3,2%.
Dikutip dari laporan resmi yang dirilis pada Selasa (20/1), tim ekonom IMF menjelaskan bahwa risiko terhadap prospek ekonomi dunia saat ini masih sangat condong ke arah penurunan.
Tekanan terhadap stabilitas ekonomi global ini diprediksi bersumber dari dampak ketidakpastian kebijakan ekonomi di berbagai negara, rapuhnya sistem kebijakan perdagangan, eskalasi konflik geopolitik, hingga kerentanan yang terjadi di sektor pasar keuangan.
Namun, di tengah tekanan yang ada, terdapat faktor pengungkit yang dinilai bisa menjaga daya tahan ekonomi dunia, yakni gencarnya pemberian stimulus fiskal oleh berbagai negara serta kebijakan moneter yang bersifat akomodatif.
Fenomena ini ditandai dengan kecenderungan bank-bank sentral dunia untuk menerapkan kebijakan suku bunga acuan yang rendah.
Tim IMF menjelaskan bahwa ketangguhan ekonomi yang terlihat sejauh ini sebagian besar disokong oleh sektor-sektor tertentu yang mendapatkan dukungan dari akomodasi fiskal dan moneter tersebut.
Namun, mereka memperingatkan bahwa stabilitas ini bisa saja terganggu oleh dinamika sektoral atau guncangan mendadak yang berasal dari faktor risiko lama yang masih bertahan.
Faktor pengungkit itulah yang kemudian membuat keputusan IMF melakukan revisi naik sebesar 0,2 poin persentase pada proyeksi ekonomi 2026 dibandingkan dengan prediksi yang dibuat pada Oktober 2025 silam, meskipun proyeksi untuk tahun 2027 tidak mengalami perubahan.
Pandangan ini juga telah mempertimbangkan situasi kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS) terhadap mitra dagang utamanya yang saat ini masih tertahan, bahkan terdapat beberapa komoditas yang sudah mulai mendapatkan relaksasi berupa penurunan tarif bea masuk.
Adapun minat investasi diprediksi akan tetap kokoh, terutama pada sektor teknologi yang berbasis Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) di wilayah negara-negara maju dan kawasan Asia.
IMF, pada laporan yang terbaru mencatat tingkat tarif efektif AS yang mendasari proyeksi saat ini adalah sebesar 18,5%, sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan bulan Oktober sebesar 18,7%.
Sementara itu, tarif efektif global tidak berubah di angka 3,5%, walaupun terdapat faktor pendukung, IMF menilai landasan tersebut bersifat rapuh.
Hal inilah yang kemudian menyebabkan kekhawatiran bahwa volume perdagangan global akan mengalami kemerosotan pada tahun 2026 sebelum diprediksi membaik kembali pada 2027.
Pertumbuhan volume perdagangan dunia diperkirakan akan menurun drastis dari 4,1% pada 2025 menjadi hanya 2,6% pada 2026, lalu merangkak naik ke posisi 3,1% pada 2027.
Terkait inflasi, kabar baiknya adalah tekanan harga diprediksi akan terus melandai.
Melanjutkan tren tahun 2025 yang berada di level 4,1% (turun dari 5,8% di tahun 2026), inflasi diproyeksikan akan merosot ke level 3,8% pada tahun 2026 dan menyentuh angka 3,4% pada tahun 2027.
IMF menyatakan bahwa data yang dikeluarkannya hampir tidak mengalami perubahan dari laporan WEO Oktober 2025, dengan pendorong utama berupa penurunan permintaan global serta stabilnya harga energi di level yang lebih rendah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni