Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000 per Dolar AS, Keputusan Bank Indonesia di RDG Januari 2026 Jadi Sorotan Pasar

M Robit Bilhaq • Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15 WIB
lembaran uang Rupiah dan Dolar AS
lembaran uang Rupiah dan Dolar AS

RADARTUBAN - Awal tahun 2026 ini, Bank Indonesia (BI) menyelenggarakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) perdana yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yaitu pada Selasa dan Rabu (20-21 Januari 2026).

Mayoritas pengamat dan pelaku pasar memprediksi bahwa otoritas moneter tersebut akan memilih untuk tidak mengubah tingkat suku bunga acuannya dalam pertemuan pembuka tahun ini.

Perlu diketahui, pada pertemuan RDG sebelumnya yang dilaksanakan pada 16-17 Desember 2025, BI menetapkan untuk mempertahankan BI Rate pada posisi 4,75%.

Keputusan tersebut juga mencakup penetapan deposit facility sebesar 3,75% dan lending facility pada angka 5,50%.

Jika BI menahan suku bunga kembali, maka ini akan menjadi kali keempat berturut-turut suku bunga tetap pada level yang sama sejak aksi pemangkasan terakhir pada September 2025.

Pada kesempatan itu, BI menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) guna memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk RDG edisi Januari 2026 ini, sentimen pasar sangat seragam.

Terhadap 13 institusi dan lembaga keuangan, seluruhnya memiliki pandangan yang sama bahwa BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%.

Keyakinan pasar terhadap keputusan BI ini memiliki alasan fundamental yang kuat.

Faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah kondisi nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mata uang Rupiah bahkan menyentuh level terendahnya sepanjang sejarah pada penutupan transaksi Selasa (20/1).

Rupiah terkoreksi tipis 0,06%, namun sudah menembus angka Rp16.945/US$, sebuah posisi yang kian mendekati batas psikologis baru di level Rp17.000/US$.

Situasi tersebut adalah hal yang krusial bagi Bank Indonesia, mengingat salah satu tanggung jawab utamanya adalah menjaga stabilitas kurs.

Tekanan yang belum kunjung reda pada rupiah membuat ruang bagi BI untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter menjadi sangat terbatas.

Dalam kondisi nilai tukar yang sedang rapuh, menurunkan suku bunga justru berbahaya karena dapat menggerus daya tarik imbal hasil aset berbasis rupiah.

Hal ini dikhawatirkan akan mempercepat aliran modal keluar (capital outflow) dan memperparah depresiasi mata uang.

Analisis ini didukung oleh Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, yang menyatakan bahwa BI kemungkinan besar tetap mempertahankan bunga di 4,75%.

Langkah ini diperlukan untuk memastikan aset rupiah tetap kompetitif guna menyokong stabilitas kurs, sembari memantau efektivitas dari pelonggaran yang telah dilakukan sepanjang tahun 2025.

Selain masalah nilai tukar, tren kenaikan inflasi juga menuntut kehati-hatian ekstra dari Bank Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi pada Desember 2025 mencapai 0,64% secara bulanan (mtm) dan 2,92% secara tahunan (yoy).

Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi tahunan 2024 yang hanya 1,57%, yang merupakan rekor terendah sepanjang sejarah.

Pemicu utama kenaikan inflasi di tahun 2025 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang melonjak 4,58% (yoy) dengan kontribusi sebesar 1,33% terhadap inflasi nasional.

Kenaikan inflasi ini mengharuskan BI waspada, sebab melakukan pelonggaran moneter saat harga-harga sedang merangkak naik berisiko memperburuk inflasi melalui berbagai jalur, termasuk pelemahan rupiah yang memicu kenaikan harga barang-barang impor. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#suku bunga #bank indonesia #bi #nilai tukar rupiah